Satu Hal Tak Asyik Terjadi di Awal 2024
Siapa sangka bab pembukaan 2024 imenjadi Jurnalis di Tempo berakhir. Lebih dalam dari itu, ternyata beginilah rasanya menjadi pengguran 2x24 Jam, belum apa-apa sudah gemetaran, mulai tidak waras.
Tapi sebelum jauh ke sana, aku mau cerita betapa bangganya bisa bekerja di Tempo. Media yang independen, media yang jadi kiblatnya media pemberitaan di Indonesia. Aku bekerja di sana tepat setahun lamanya. Bagiku lumayan lama, tapi setahun sama dengan 12 bulan itu hanya baru seumur jagung, belum ada apa-apa berkarir di dunia jurnalistik. Selama setahun itu aku juga belum menulis tulisan panjang yang sesuatu, belum ada. Aku tidak meninggalkan jejak berarti di sana. Barangkali sedikit berkontribusi menyanggah nol koma sekian persen tegaknya rubrik nasional online.
Aku
layak sedikit merayakan kontribusiku, setidaknya validasi kebanggaan itu
berangkat dari berulang-ulangnya korlip mengatakan bahwa rubrik nasional
merupakan punggung dari Tempo. Tapi tentunya hal itu tak lantas jadikan kita besar kepala, semua koreksi dan evalusi
mestinya menjadi pembelajaran khususnya buatku untuk kedepannya.
Pertama,
aku mau mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang memudahkan segala urusan
pekerjaanku di Tempo. Aku sebetulnya tidak menyangka anak kabupaten ini lumayan
bisa menyesuaikan diri dengan iklim kerja Jakarta. Temanku bilang, Jakarta not
for everyone. Mungkin Jakarta memang terbuka buat semuanya, tapi tak semua
terbuka dengan Jakarta. So yeah.
Kedua,
aku mau mengucapkan terima kasih paling besar kepada sosok Senior di Tempo Mas
Dian. Tanpa beliau mungkin Tempo hanya jadi angan-anganku yang terpendam jauh
di lembaran-lembaran diari atau laman daring blogku yang sepi ini.
Ketiga,
Aku mau bilang terima kasih kepada Korlipku serta jajaran redaktur yang selalu
memberikan masukan, saran, trik menjadi wartawan Tempo. Ternyata memang tak
mudah menjadi wartawan Tempo hahaha. Semua tunjuk dan ajar tentu aku catat
baik-baik, aku berusaha matian-matian supaya semua yang disampaikan jadi
pemukul, evaluasi untukku di masa depan sehingga jadi versi terbaik. Mendobrak
segala keterebatasan.
Entah
mengapa tidak berada di Tempo sedikit membuat aku sentimentil. Mimpi paling besar
aku tuh ya memang bisa kerja di Tempo. Jadi pas udah gak di Tempo aku lumayan
terawang-awang belum ada tujuan. Aku sempat berpikir juga untuk mengakhiri dunia
Jurnalistik. Tapi aku tertampar tidak ada skil yang lain.
Terlepas dari itu semua, ada hal yang aku sayangkan
selama setahun belakang ini. Selama di Tempo aku belum pernah kesampaian bertemu
langsung sosok Goenawan Mohammad. Salah satu penggagas Tempo.
Aku
ingat betul, selama setahun aku di Tempo sudah tiga kesempatan terlewat untuk
melihat sosok Goenawan Mohammad. Pasalnya
selalu bertepatan dengan momen liputan penting yang tak boleh terlewat. Jika aku
tak tak salah ingat, salah satunya beliau hadir di kegiatan pembekalan Jurnalis di masa
politik yang berlangsung kantor Tempo Jalan Palmerah.
Tersebab
teringat Goenawan Mohammad, aku kembali mengunjungi yutub Kompas, menyaksikan wawancara
khusus jurnalis senior Rosi dengan Gunawan Mohammad. Disana Goenawan Mohammad
sempat menitikkan air matanya karena kekecewaannya terhadap rezim Jokowi. Terlepas dari itu, apa yang hendak dibuat.
Waktu sudah selesai, mungkin bisa bersua di waktu lain saja. Semoga mata angin
membawaku bertemu dengan Goenawan Mohammad. Mungkin karena sama-sama suka menggambar.

Komentar
Posting Komentar