Mengapa Aku Tetap Menulis, Padahal Masih Begitu-begitu Saja
Satu pertanyaan mencuat di benakku, usai membaca berbagai draf tulisan yang aku muat di blog pribadiku. Kenapa aku terus menulis dalam rentan waktu yang sangat lama hingga 5 tahunan ini. Tapi sayangnya, aku tidak menyukai tulisan-tulisanku. Tulisannya jelek. Membacanya sangat memuakkan.
Aku teringat kata bapakku dulu sekali, tentang apa jurusanku dan apa yang aku lakukan dengan di jurusan itu. Aku menjawab kalau jurusanku Jurnalistik, yang aku lakukan menulis.
Bapakku menjawab hanya menulis, masa menulis? anak TK pun bisa melakukannya.
Mendengar perkataan bapak, aku tercenung. Dalam benakku mengatakan ya benar. Lalu apa yang aku lakukan dengan menulis selama ini?. Ditambah lagi ketika meyelami pekerjaan sebagai jurnalis, aku pun tak menemukan hal yang membuat aku puas dengan tulisanku. Tulisanku jelek, begitu kata korlip liputanku.
Aku berusahaan menolak penilaian itu, tapi aku tidak boleh menolaknya begitu saja, aku tidak ingin menjadi golongan Egghead alias bebal pada kepakaran. Tentu aku bersedih dengan penilaian seperti itu, tapi apa boleh kubuat, korlipku tentu orang yang punya pengalaman panjang dalam dunia jurnalistik, sedangkan aku baru menyicip asam, manis, gurihnya dunia reportase ini.
Aku juga baru saja membaca tulisan panjang temanku di kanal pemberitaan. Tulisannya tentang ekploitasi satwa primata yang tidak dilindungi. Tulisan itu benar-benar panjang. Aku salut dengan dia dapat menulis dengan begitu ciamik dan runutnya.
Dengan sekuel temuanku, aku bertanya lagi, lalu apa yang aku kerjakan sejak kuliah hingga terjun langsung di lapangan dengan tulisanku yang begitu-begitu saja ini?
Apakah aku orang yang lambat belajar, apakah aku masih kurang etos dan kurang tekun dalam memperbaiki tulisanku, apakah tulisanku ditakdirkan jelek?.
Aku minta maaf banget sama diriku sendiri, memang sakit ditampar kenyataan walaupun menurutku sudah melakukan usaha yang paling maksimal.

Komentar
Posting Komentar