Mati Tegang Tenggelam atau Mati Tegak Berdiri: Laron
Bila
kasurku adalah lautan yang luas, sudah pasti aku terapung dalam gelombang yang
tenang. Aku tegang dengan kening berkerut dan jari jemari yang keriput.
Seharian menatap abses kosanku yang seputih langit Tuhan, di mana terbentang lebar
seperti tikar di pengajian.
Dan
Bintang-bintang yang mengerjap-ngerjap itu diganti laron musim penghujan. Laron
itu datang sendirian. Hanya satu. Ia terbang dengan empat sayap oval dan tubuh
kering berwarna coklat. Dia terbang ke sana kemari dengan penuh ambisi. Berharap
menemukan kekasihnya untuk berganti
generasi.
Aku
memelototi laron itu di langit asbesku. Aku melototinya dengan mata panas, laiknya puncak gunung api
yang aktif laharnya. Aku menertawai laron itu seperti gunung yang erupsi,
mengeluarkan hujan debu vulkanik. Dalam benakku, laron itu akan mati kelelahan terbang
di atasku, sebab ia berusaha menjadi bintang-bintang.
Aku
mengatakan dalam hati, laron itu akan mati mengambang, keriput, tepat di atasku.
Jatuh di atas kasur lautanku.
Sesaat Laron itu sempat sempoyongan, ia berhenti mengepakan sayapnya yang mulai lusuh. Tergopoh-gopoh naik dan turun supaya tak mendarat. Aku menjadi petir, dengan kamera gawaiku menjepret momen terakhir sang Laron yang tak lama akan menemui ajalnya sebab tak jua berkawin.
Aku,
aku menertawainya. Lagi, lagi menertawai. Nasib dikandung badan, sang laron tak
kesampaian tujuannya.
Aku
beranjak dari kasur lautanku. Menegakkan badan laiknya mercusuar di lautan yang
luas. Menyoroti banyak sudut yang selama ini tak kulihat.
Luas
biasa. Aku menemukan laron yang lain. Ada dua laron di semestaku. Laron itu sampai pada tujuannya. Ia yang kelelahan dihampiri mimpinya.
Aku
bergerak laiknya gelombang laut yang bergulung-gulung. Memecah buih hingga ke bibir
Pantai untuk mencari tahu dari mana muasal laron lain masuk ke semestaku. Setelah bergerak mengsatkan bibir pantai, aku datang seperti tsunami. Tsunami itu berisikan gelombang besar yang membawa semua isi laut ke darat sebab takjub ketika tahu, ternyata satu pintu terbuka di balik tirai putih yang terbentang. Nasib dikandung badan, apa
yang menjadi milik kita akan datang pada kita.
Salut.
tulisan ini bukan keresan perihal jodoh, tapi lebih luas. Ini tentang apa mimpi kita. Laron adalah bagian kecil dari diri kita, dan Aku juga bagian dari diri kita. Kadang kita menertawai apa yang kita mimpikan, mengecilkan harapan. Aku adalah musuhku sendiri. Mengutip sebuah hadis Rasul mengatakan jihad paling besar adalah melawan hawa nafsu.
Apakah mengucilkan, mematahkan semangat diri sendiri bagaian dari hawa nafsu? bukankan hawa nafsu selalu erat dengan ambisi yang memuncak? Tidak. Salah satu dari jihad melawan hawa nafsu di antaranya kesabaran dalam menghadapi segala cobaan.


Komentar
Posting Komentar