Piatu
Langit turut menagis, hujan deras mengguyur, gemuruh tak henti-hentinya bersahutan, dan kilat siap menyambar jiwa kopong yang saban hari selalu silap dan suka bersilat. Lidah.
Tak berdaya. Lagi-lagi, masalah serius dianggap remeh temeh dan sepele, rakyat proletar tak punya kuasa. Hanya jadi mangsa ketamakan dan haus kuasa.
Kesedihan dan rasa kehilangan bukan cuma itu saja. Di tanah kelahiran sendiri kami dibuat seperti pengungsi, disepak sana, digusur sini, dibiarkan mati.
Hanya di negeri ini rasa pilu dan trauma bisa ditawar-tawar dengan "damai." Ditulis di atas kertas matrai yang katanya terintegrasi di dunia, dipertanggung jawabkan di akhirat saja.
Saat aku berteriak kegundahan, kata-kata ku susun sedemikian rupa, merongrong dan megelegak di jiwa-jiwa muda, malah mereka menyumpal mulutku agar tetap diam tak bersuara.
Melepaskan Kegelisahan pada siapa?!, di sini tak ada tempat mengadu, Pasalnya kami terlahir piatu tak ada. Ibu.
Kami namanya nyaring di telinga, dipuji-puji insan, kami hanya tau namanya tapi tak tau wujudnya.
Tak lama dibawalah aku ke pengadilan, dengan baju ciri khas pesakitan, menghadap hakim yang agung, dan di tangannya sembilah pisau bermata dua, anyar dikata tumpul ke atas tajam ke bawah. Haha.
"Saya berdamai dengan pilu, dan bersahabat dengan trauma," umpatku
Seandainya kutahu di mana Ibu, pasti dia membelaku. Tapi.
Mungkin saya durhaka kepada ibu, atau malah saya yang tidak tau, ibu sedang menangis tersedu-sedu di balik anyaman bambu, mengelap air matanya dengan jarik yang melilit lehernya, sampai nafasnya tersengal-sengal, hingga akhirnya harus meninggal?!
Ibu, Aku ingin tau, kenapa simbol timbangan keadilan seorang dengan mata tertutup? Lalu mengangkat bak di sisi kanan dan sisi kiri hanya dengan satu tangan dan ia berdiri tegak di tengahnya? bisakah ibu menjawab?? Aku hampir mati dibunuh ketidaktahuanku.
Jawablah aku ibu, jika engkau belum mati ibu. Pertiwi.
Tak berdaya. Lagi-lagi, masalah serius dianggap remeh temeh dan sepele, rakyat proletar tak punya kuasa. Hanya jadi mangsa ketamakan dan haus kuasa.
Kesedihan dan rasa kehilangan bukan cuma itu saja. Di tanah kelahiran sendiri kami dibuat seperti pengungsi, disepak sana, digusur sini, dibiarkan mati.
Hanya di negeri ini rasa pilu dan trauma bisa ditawar-tawar dengan "damai." Ditulis di atas kertas matrai yang katanya terintegrasi di dunia, dipertanggung jawabkan di akhirat saja.
Saat aku berteriak kegundahan, kata-kata ku susun sedemikian rupa, merongrong dan megelegak di jiwa-jiwa muda, malah mereka menyumpal mulutku agar tetap diam tak bersuara.
Melepaskan Kegelisahan pada siapa?!, di sini tak ada tempat mengadu, Pasalnya kami terlahir piatu tak ada. Ibu.
Kami namanya nyaring di telinga, dipuji-puji insan, kami hanya tau namanya tapi tak tau wujudnya.
Tak lama dibawalah aku ke pengadilan, dengan baju ciri khas pesakitan, menghadap hakim yang agung, dan di tangannya sembilah pisau bermata dua, anyar dikata tumpul ke atas tajam ke bawah. Haha.
"Saya berdamai dengan pilu, dan bersahabat dengan trauma," umpatku
Seandainya kutahu di mana Ibu, pasti dia membelaku. Tapi.
Mungkin saya durhaka kepada ibu, atau malah saya yang tidak tau, ibu sedang menangis tersedu-sedu di balik anyaman bambu, mengelap air matanya dengan jarik yang melilit lehernya, sampai nafasnya tersengal-sengal, hingga akhirnya harus meninggal?!
Ibu, Aku ingin tau, kenapa simbol timbangan keadilan seorang dengan mata tertutup? Lalu mengangkat bak di sisi kanan dan sisi kiri hanya dengan satu tangan dan ia berdiri tegak di tengahnya? bisakah ibu menjawab?? Aku hampir mati dibunuh ketidaktahuanku.
Jawablah aku ibu, jika engkau belum mati ibu. Pertiwi.

Komentar
Posting Komentar