Terlambat🏃💨

Aku itu piatu sejak 28 Agustus 2018. Qadarulla Almarhumah wafat karena sakit kanker rektum, ah sedih. Banyak banget cerita yang mau aku bagi di sini. Bulan Ramadhan gak terasa kurang lebih 25 hari lagi akan tiba. 


Jujur sebenarnya, akhir-akhir ini aku suka sambat, rasa nelangsa, entah macamanalah aku kasih gambarannya itu sulit dibayangkan, aku suka nangis sendiri gak jelas, seringnya sih waktu aku lagi siapin jualanan goreng.


Gini ya, kita kalau lagi melakukan aktivitas yang di dalamnya itu banyak jeda-jeda waktu, maksud aku itu, kita enggak lagi melakukan pekerjaan yg haetic. Di situ kita bakalan banyak berkhayal, bengong, memorial, flashback, and anything about it being, auto aku pasti ke ingat Almarhumah mamak ku, ih sedih.


Ya karena, pekerjaan yang lagi aku lakukan itu benar-benar berkesan di hati ini❤. Over all aku dari SMA memang suka jualan Goreng. Ya bahasa kasarnya buat nambah-nambah beli minyak motor, nambah sangu sekolah, tapi ya belum cukup buat bayar angsuran motor.


Keseharian Almarhumah mamak ku sewaktu hidup, beliau jualan lontong medan, warungnya dekat pom bensin di pinggir jalan lintas Sumatra, kampung Balam Sempurna, keadaan waktu jualan selalu buat aku kangen, apalagi kalau pas banyak angin, semilir sekali udaranya, karena di dekat warung lontong mamak ku ada pohon Bambu Kuningnya, daun-daunnya melambai-lambai, gemerisik daun Bambu kering, batang Bambu yang berserat bergesek, pokoknya teduh banget deh mau semromong apapun cuaca hari itu, dan walaupun di pinggir jalan.


Setiap pagi aku sering banget diteriakin sama kawan-kawanku yang pada pergi sekolah, gini biasanya mereka teriaknya "Woi Tika pergi lagi, udah Siang nih, " Haha lucu kali  kalau teringat itu, bukan soal apa. Tapi soal siapa, ini yang teriak kayak gini, bukan satu dua orang, tapi setiap orang yang tau samaku, mau temen sekelas, adek kelas, abang kelas, yang gak ku kenal pun bilang gitu.


Biasanya aku, jam tujuh kurang 15 menit sibuk nyapu halaman warung, nanti jam tujuh pas baru sibuk nyusun seperangkat lontong dan rekan-rekannya, nanti jam tujuh lewat lima menit baru mamak ku selesai goreng Gorengannya, jam tujuh lewat sepuluh menit baru berangkat, nanti sampai sekolah udah jam tujuh lewat dua puluh menit. Coeg.


I'm Miss Late, my friend said that since in Senior High School, gak heran sih dikasih panggilan kayak gitu. Wkwk


Aku mah selow aja, orang yang telat banyak kalau sendirian baru malu. Tapi sebenarnya kalau kita ini cerdas memanfaatkan moment, disitu ada peluang kita. Orang yang perginya telat, biasanya karena bangunnya kesiangan, kalau aku telatkan banyak kerjaan (pencitraan 😁). Manfaatkan moment Ferguso.


Orang baris di lapangan, kita yang telat tegak di luar pagar, tawarkan tuh Gorengan, pasti laku keras (udah pasti) sambil nunggu hukumankan, biar gak loyo nanti kalau disuruh nyapu halaman sekolah, plus ladang sawit di dekat lapangan sepak bola. Sambil ngakak-ngakak sama kawan-kawan yang telat, ku perhatikan itu-itu aja muka yang telat, yang pasti pertama Aku, ada kawanku di IPS dulu waktu semester satu, abang kelas dari dari IPA sampai IPS, pokoknya kalau bisa buat "Lates Member Card" udah pasti kami duluan yang punya, Wkwk.


After all, I always responsibel with the risk ya, aku tau kewajiban aku sebagai Anak, dan aku tau kewajiban aku sebagai Murid. Setelah bantu mamak di warung, kalau telat datang ke sekolah ya legowo menerima hukuman yang ada. Toh cuma nyapu halaman doang, di warung kan juga nyapu halaman, jadi double, anggap ajalah olahraga pergelangan tangan, pengecilkan lemak yang ada.


Dan ini yang aku suka, selesai hukuman kan masuk kelas, walaupun aku telat, kedatangan ku lah yang di nanti-nanti para pecinta Goreng, setiap langkahku menjadi centre of Attention, demi Kampung Tengah kawan-kawanku, dan janji setia semalam sore, aku telat untuk mereka. Wkwk.
Tapi perlu diingat, itu semua jangan dicontoh, aku sadar kok itu adalah kebudayaan yang buruk.


Aku mulai jarang telat, sejak ada peraturan waktu Gerbang sekolah di tutup setiap jam tujuh pas. Itupun awalnya aku gak percaya, tapi waktu ada yang telat, mereka benar-benar dihukum. Tapi kali ini bukan nyapu halaman sekolah, tapi satu sak semen. Yaiya kali masih pagi ngeluarin uang limapuluh ribu, kala itu. Oh No.


Jadilah aku murid teladan, setiap pagi sudah ada di barisan bersama teman-teman. Dan aku ingat satu kata kawanku saat itu, "ini adalah sebuah keajaiban, si Tika cepat datang wei, " E*k kaulah, ku jawab (maaf, kayak gitu udah biasa antar kami).


Iyalah, masa telat-telat aja, aku dapat Karamah ini. Karena aku sadar, aku bukan Anaknya pak Kepsek. (Bahasa penuturan kami, saat itu).


Tapi sayang Aku dulu (sampai sekarang, kuliah) memang akrab yang namanya telat(hihi). Tapi itu semua terjadi secara gak sengaja. Sebenarnya malu sih jadi orang yang gak ontime, tapi gimana yakan.
Makanya aku salute banget liat dosen yang fin-fine aja, kalau muridnya telat. Yang berlapang hati menerima kedatangan kami yang telat. Toh tidak memberi kemudharatan bagi dosen (pembelaan orang telat), Betul?? Iya... Iya.. Iya.. 😅


Tapi perlu diingat kita hidup disebuah sistem dan kontrak, gak boleh suka-suka. Emangnya dunia cuma muter-muter di jidat kita, kan enggak. Ok deh Wassalam.

Komentar

Postingan Populer