Nongkrong Barbar Ala Anak Stadion

Panas yang terik berganti dengan sendunya magrib tlah menyapa, mendung-mendung damai. Aku dan beberapa teman-teman juga pamit pulang dari kesekretariatan, karena rumahku lumayan jauhlah, butuh sekitar 25 menit untuk sampai ke rumah. Nah di sepanjang perjalanan pulang, aku selalu lewat Stadion Utama Riau, waktu aku melintas di sana, langit udah gelap dong ya, di sanalah aku melihat kelap-kelap lampu semprong modal botol M-150 dan asap-asap jagung buat halau nyamuk di semak belukar tempat muda-mudi nongki asik. Gilak sih lumayan GG ini, ngalahin tongkrongan PUB yang di mall tempat biasanya anak hedon ngabisin duit.

Gak jarang juga aku lewat jalan ini waktu malam hari, yang bisa dihitung satu, dua atau sama sekali tidak ada lampu jalan yang menerangi sebagaimana fungsi pengadaan barang itu di tengah-tengah jalan. Kalau kalian lewat ini benar-benar jalanan itu gelap gulita, ya cuma modal lampu sorot motormu lah untuk penerangan. Percayalah kalian, gak puas rasanya kalau urat lehermu gak dipelintir cuma pengin tahu pemandangan lampu-lampu semprong M-150 dengan modal sumbu kompor, apinya meliuk-liuk kena angin cemas-cemas mati, pas kayak momen panik ngewepetnya babi di rumah-rumah yang kecyduk sama warga. Tapi ini bukan soalan pesugihan, bisa jadi soal; Hem~~~

Ntah kenapa, sering juga kudengar cerita dari mulut ke mulut kalau sudah pernah singgah ke tongkrongan stadion, udah menjadi pengalaman terliar orang-orang, walaupun gak semua. Karena eksistensinya itu loh, buat geleng-geleng kepala. Apalagi yang dapat spot VVIP kelas borjouis dengan kebaikan lokal; di semak-semak Ilalang, lah konon adalah tempat unggulannya, bisa jadi harga yang dipatokkan menyaingi Cafe sekelas Upnormal.

Apa kelebihannya, kalau diurai secara amatiran tentu saja sudah pasti bersenggama; dengan alam, dapat langsung melihat pedarnya bintang-bintang, ilalang yang bergoyang, asap bakaran jagung yang sarat kenangan, hayo apalagi ya pokonya rasa dunia ini cuma milik berdua. Prett (mau muntah sumpah).

Jadi yang selalu mengusik otakku adalah sebenarnya mereka ini nongkrong biasa, nongkrong jaga lilin buat pesugihan, atau saling nongkrongin satu sama lain, atau nongkrong sambil gulatan, rebahan atau gimana ya?! Kepoo gila~~ oh ya FYI guys, ini tempat bakalan kelihatan lebih ramai lagi kalau hari jumat, katanya sih mujur. Ntah mujur apa aku pun gak tau yang pasti lilinnya jangan sampai mati, kalau mati bisa bahaya. Ya tentulah bahaya, nanti kalau ada ular gak keliatan dipatok bisa-bisa mati keracunan. Keracunan duniawi.




Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer