Mari Saling Memuji
..................................................................................................[Sebagian teks hilang]................................................................................................................ [Sebagian teks hilang]. Saya lihat kamu sekarang punya penampilan baru, jadi tampak rapi dan terlihat manis jangan tersenyum gula pun akan iri. Bersama dengan rinai hujan dan dingin yang menggigit ntah berapa kali, katakanlah, kau sebut aku tampak cantik. Aku tak tahu betul, apakah iya itu sebuah pujian serius atau hanya bualan belaka, itu basa-basi atau sebuah perhatian?! ((Bukankah, terdengar begitu percis seperti yang kau sebut saat makan bersama malam itu)). |
Waktu kau puji aku soal cantik, tak ada yang bisa aku bilang kecuali aku mengakuinya, bahwa ya aku cantik. Tentu tak perlu berlebihan. Itu semua berangkat dari kepercayaan diriku, tentang namaku, Tika Ayu, Ayu sendiri dalam Bahasa Jawa berarti cantik. Jadi ya, aku si Tika Cantik.
Cantik mungkin bukanlah dari parasku, aku pun percaya diri soal itu, sudah berdamai dengan diri sendiri, dan menerimanya jadi sebuah kenyataan. Tapi semoga saja cantik tak melulu soal paras, semoga saja masih ada printilan 'cantik-cantik' yang lain, yang katakanlah nyantol di diriku. Sebab aku yakin, Tuhan tak cuma-cuma menciptakan aku sedemikian rupa ini.
Omong-omong, di beberapa kali kesempatan pujian yang terlontar saat itu, juga sebetulnya banyak berserakan penolakan dari dalam diriku. Sulit menerima pujian cantik dewasa ini, terlebih aku besar di lingkungan yang selalu membandingkan penampilan.
Dahulu kecil, aku hidup [...Sebagian teks hilang...], jika dibandingkan dengan saudaranya, anak kelima ini tak begitu banyak di rumahnya. Ia banyak habiskan waktu di rumah orang. Jika di rumahnya ia bakal menghadapi banyak kepala, banyak mata, banyak mulut, lantas mereka mengamati kenapa bocah ini sangat berbeda dengan saudara perempuannya yang lain?
Dahulu hal-hal seperti itu terdengar biasa saja, namun seiring waktu, aku semakin bertambah usia, kata-kata yang menjurus jahat itu, begitu nyelekit di hati, bunyinya cekit-cekit-cekit-cekit.
Tapi aku serahkan semua pada semesta, waktu punya cara kerja. Semakin banyak aku diterpa kias banding-banding cantik yang menyebalkan itu, semakin banyak pula bahan untuk membuat tembok ketidakpedulian. Aku tidak lagi peduli, apakah parasku buluk atau cantik, penampilanku jelek atau cantik. Semakin dewasa, aku bisa memilih untuk tetap tinggal berdiri di sana mendengarkan atau pergi, atau jika kias banding-banding itu masih mengekoriku, aku masih punya dua tangan untuk tutup dua telingaku.
... [Sebagian teks hilang].... dan enggan pula memuaskan puluhan pasang mata, supaya mendapatkan pujian atau legitimasi kalau Tika itu cantik. Tidak, aku tak melakukannya diriku tak hendak.
Sampai satu titik, pujian cantik yang berulang kali aku hempaskan itu, mungkin membuatmu wegah. Kau menyatroni pernyataanku dengan berkata, "Ya bilang saja aku memang cantik, sebab aku perempuan," begitu tandasmu. Aku hanya tersenyum sumriah, bukan merasa tersanjung, cuma sekadar ingim mengeringkan gigi. ((Bicara tentang itu aku tak begitu sepakat))
Cantik tak hanya milik perempuan, karena menurutku cantik bukanlah suatu hal yang bergantung pada soalan gender, bukan suatu hal soalan yang hanya cocok untuk makhluk yang bervagina, begitu bukan?!
Buktinya saja, lukisan-lukisan yang kau toreh di atas kanvas dengan berbagai macam warna, ukuran, dan bentuk yang abstrak pun terlihat cantik. Cantik dan bagus malah, nah itulah jawaban dariku.
Aku pun tak segan dan tak keberatan memujimu cantik, tanpa mengurangi karakteristiknya, meragukan dan macam lainnya yang biasa didikotomi nilai-nilai masyarakat. Kamu cantik banget ...[Sebagian teks hilang]. Oh ya, mungkin kau lupa namaku, namaku Tika Ayu, biasa dipanggil Tika, dan panggilan Tika terdengar lebih nyaman daripada Ayu. Sebab aku tak perlu pengakuan itu, hahahaa. Salam kenal berulang, tabiik!


Komentar
Posting Komentar