Tembang Terakhir dari Ibu
Sore yang pengap di ruang tamu dengan jendela lekung berkaca gradien kehitaman, tergelapak aku dan ibukku menatapi langit-langit rumah yang cukup tinggi.
Tak banyak perbincangan waktu itu, yang ada hanya suara decit kipas yang sesak dengan debu, serbuan lalat yang mengganggu, juga sedikit bau minyak angin yang senantiasa di dekap dekat ibu. Mencari bahan untuk mengobrol yang asik dan kepenak bukan hal yang mudah, mengingat orang yang hendak aku ajak ngobrol adalah orang yang sakit. Secara terkadang kondisi mood orang sakit cenderung berubah-berubah, laiknya awan yang lengser ditiup angin, ia bisa ke utara artinya senang, bisa ke barat berarti sedih dan ke timur bila marah.
Rincinya lagi, ibu memang terserang awan, bukan awan biasa ia sariawan, makanya itu tak heran seperti yang kujelaskan sebelumnya kudis di sekitar area dalam mulut itu bisa mengubah moodnya sembarangan. Belakangan ibu jadi langganan sariawan, itu karena efek obat kemoterapi yang ukurannya segede satu baku jari jempolku dan itu pula mesti dikonsumsi tertib dan rutin.
Karena kerasnya efek obat itu makanya ibu jadi tak berdaya untuk banyak mengobrol. Walaupun aku sadar kondisi itu merupakan buntut segala kebisuan yang menyergahnya. Tapi aku tak pantang arang, aku putar balik otak bagaimana siang hari yang panas itu hanya jadi bualan saja, dan aku oh lebih tepatnya kami ada obrolan yang teduh membunuh siang.
Kupikir-pikir, sepertinya cocok bila aku mengungkit lagu-lagu favoritnya. Padahal aku pun tak tahu betul bagaimana selera musik yang disukai ibu. Jika aku mengorek ingatan, dahulu ibu suka meronggeng-ronggeng pelan sebuah bait-bait yang bahasanya tak terlalu akrab di telinga, jika disimak dengan seksama, ibu meronggeng sebuah lirik lagu dengan bahasa Jawa Krama.
Bukan sembarang melantunkan ronggeng-rongeng bahasa Jawa Krama, nada yang dipantunkannya itu kental dengan cengkok-cengkok manja dan mendadak datar lalu menungkik tinggi menjadi suatu bunyi yang candu, bagaimana tak candu semua susunan titis laras atau tangga nada itu kental dengan pledro-nya. Jadi bila siapa saja yang mendengarnya akan terhenyak dari keresahan menuju ketenangan, rasa nyaman.
Untuk memulai percakapan yang mencacah sunyi, seperti harapanku, aku mengungkitnya dengan nada bicara yang agak gamang diikuti yakin, seakan mengisyaraktakan bahwa jawabannya "iya", kalau dahulu ibuku sangat suka lagu jawa yang judulnya Prau Layar.
"Mak, ingat lagu Prau Layar?", Ibu hanya menganggukkan kepalanya
Tak dinyana, kalau dulu lagu Prau Layar jadi playlist langganan yang dinyanyikan ibu saat di kamar mandi, entah bagaimana ceritanya, sepertinya emang kondisi grejekan air dengan lirik lagu itu berkawin. Ada satu bait lirik yang paling monumental berbunyi "Byak,,byuk,,byak banyu tinelak" yang berarti byak,,byuk,,byak airnya tersibak, makanya itu alasan paling mungkin nan ciamik mengapa lagu ini punya tempat sendiri di hati ibu.
Selain lirik baitnya yang terdengar sangat bersemangat, menyanyikan lagu Prau Layar di kamar mandi juga mungkin dilatarbelakangi dengan dengung suara ibu jadi sangat pulen, seakan-akan betul berada di sebuah ruang kedap udara percis studio rekaman, makanya tak enggan ibu bila suaranya itu direkaman dengan perekam seadanya.
Omong-omong, sepanjang lagu Prau Layar ini, ibuku mulai terbawa arus pembicaraan. Masih tak banyak bicara, tapi ia berusaha menyimak setiap pertanyaan dan jawaban yang kuhantur dan kujawab sendiri. Satu titik di mana kutanyai ibu soal apakah ada banyak jenis lagu jawa lain yang begitu mengena di hati, hingga sampai saat ini ia masih ingat, kutanyai.
Tiba-tiba saja ibu, membalikkan tubuhnya, bertumpu pada bagian tubuh sebelah kanannya, lebih tepatnya menghadap ke arahku. Dia mulai bercerita, dahulu waktu ibu masih di pulau jawa, hiburan yang paling rakyat yaitu penampilan sinden-sinden jawa dalam hajatan tetangga.
Katanya, di hajatan seperti itu hiburan terbuka untuk umum, tidak khusus sebagaimana layar tancap yang mesti dikenai biaya tiket (Ya walalupun dulu bisa mencuri-curi tempat di sudut-sudut tertentu agar tetap bisa menyaksikan film kesayangan). Lanjut ibu bercerita katanya, dahulu para sinden bernyanyi dengan seksama dan tukang gamelan, dan tukang gendang berasa di setiap ketukan dan tabuhannya.
Dengan segala kesakitan di area mulutnya, selain sariawan, bibir pecah-pecah juga sebuah persoalan, ia menyampaikan kalau dulu sindennya duduk dengan tenang, kaki terlipat dengan ayu. Sanggulnya mega, pakai baju kebaya berpasangkan kain batik dengan ikat pinggang yang membuat tubuhnya tegak sempurna. Ikat pinggang yang melilit itu membuat kemolekan tubuh penyinden tampak sangat indah, selain indah membantu alir pernapasan pula. Semua penonton terpanah dengan pemandangan itu, berpuluh-puluh sorot mata tak akan mangkat dari sang sinden sampai lagu usai ditembangkan.
Mendengar cerita yang diutarakan itu, aku menggagu, kukatakan di antara semua tembang itu yang mana satu selalu membekas di hati, kutanyi ibu begitu. Ibu terdiam sejenak, tak melanjutkan cerita, dengus nafasnya pun tak begitu kentara, seperti orang yang lelah dan tercekat nafasnya. Beberapa detik, senyap menjadi idiomatis.
Setelah momen senyap idiopatik itu melesat, mulut ibu mulai meronggeng- ronggeng seperti mencari pijakan sebelum melompat, seberapa tinggi dan rendahnya nada sedang dianalisanya.
Matanya terpejam, mulutnya merapat menata nada, sesekali mengoreksi sendiri seakan ialah komposer nya. Cengkok bermunculan, ia menarik nafas dalam dan mulai berani berdirikan di titik start.
Dalam jarak tak anomali, ia menggapai keningku, seperti saat ibu mengecek suhu tubuh anak kecil yang sedang demam.
Mulai ibu bernyanyi, ing tawang ana lintang, cah ayu sesok gede dadi opoooo?
((Jika di langit ada bintang-bintang anak perempuanku kalau sudah dewasa jadi apaa?))
Begidik merinding leherku, betul saja, itu sebuah tembang yang paling serius yang pernah kudengar dari mulut Ibu, dalam kesakitan ia tak berhenti bertembang untuk aku, untuk menjawab rasa penasaran ku, membunuh kejenuhanku.
Aku yang juga memejam mata saat itu, sebetulnya tak keberatan mengucurkan air mata, tapi itu tampak berlebihan jika ditunaikan di waktu yang sama. Walaupun awalnya aku tak betul mengerti apa arti potongan tembang itu, tapi wirama, wirasa lagunya menusuk relung jiwa.
Setelah potongan bait itu diulang-ulang terus menerus, ibu akhirnya berhenti. Ia menyerah, sariawannya ngilu tersenggol baris gigi-geliginya dan bibirnya yang pecah-pecah terasa perih saat terenggang dan tersapu air liur.
Suasana kembali sepi, sepinya berkepanjangan sampai saat ini. Saat ini tulisannya jadi. Itulah tembangan lagu terakhir dari ibu tersayang.
Tembangan yang terakhir itu seperti pertanyaan masa depan, rasa penasarannya, seperti seakan ia tahu, ia tak bakal berlama-lama di sini, di samping anak perempuannya.
Ia telah menghadap Tuhan lebih cepat dari yang pernah diharapkannya melihat anak-anaknya entas semua. Tapi garis takdir diukir atas tangan sudah diatur, gak bisa dibentur-bentur.
Alfatihah buat ibu

Komentar
Posting Komentar