Perkenalan dengan Bajak Seniman Tato Mentawai; Jak Kora
Seperti janjiku, di penghujung bulan Mei akan aku bagi sebuah pengalaman berkenalan dengan kawan baru yang sangat berkesan.
Dalam kepenatan badanku pasca menjalani hari yang panjang, seperti biasa aku pulang seorang diri menuju rumah melewati jalan pintas supaya terhindar dari kemacetan Jalan Subrantas yang anyar sekali jadi bulan-bulanan kemacetan. Sebab kemacetan jadi suatu yang berkali-kali menambah penat menjadi sebuah hal yang begitu menyebalkan.Waktu malam sudah masuk, selepas salat Magrib yang sendu, tiba-tiba di ujung jalan Merpati, air langit turun menghujam tanpa ampun, betul saja dalam waktu yang sebentar bajuku sudah cukup basah kuyup kena air. Tidak ada yang sulit waktu itu untuk behenti sejenak memakai jas hujan lalu melanjutkan perjalanan. Tapi entah kenapa dalam benak hati, perjalanan sungguh terasa tanggung untuk menggunakan jas hujan, sebab tiap kali sampai di titik jalan ini, entah bagaimana ceritanya hujan tiba-tiba turun percis seperti sebuah kejutan.
Aku yang seorang diri ini membatin, mengapa tiap kali melewati jalan ini hujan tanpa tendeng aling mendadak muncul di persimpangan, seperti ada batas wilayah atau semacam sekat tak kasat mata di atas kepala-kepala kita. Aku hitung-hitung, belakangan sudah 3 kali aku melewati jalan ini, dan setiap di sampai di sini pasti hujan, mau itu gerimis ataupun deras. Jadi, karena aku tak bakal henyak dari keengan menggunakan mantel hujan, entah kepercayaan diri macam apa yang merongrong jiwaku untuk mampir sebentar di sebuah kafe di pertigaan Jalan Merpati.
Dari sepanjang jalan memandang, hal yang paling pertama terlihat terang saat itu adalah pohon-pohon sejenis Ketapang yang melambai-lambai didesir oleh angin hujan malam itu, di pinggir dekat pagar kafe itu sorot lampu kuning menerangi tanaman dan tentunya pagar besi hitam yang dibuka lebih lebar menyapa pelanggan. Boleh dibilang di sepanjang baris bibir jalan, jalan kafe inilah yang paling terang. Karena hujan makin tak punya ampun, aku menancap gas motorku masuk ke dalam halaman yang cukup luas di parkiran.
Aku sejenak mengibasi air di atas kain baju dan jilbabku, turun dari motor dan kemudian menyapa salah satu pegawai kafe tersebut sambil meminta izin untuk berteduh di dekat sana. Sebatulnya aku ingin sekali langsung duduk di dalam kafe sebagaimana lazimnya orang mendatangi kafe, namun aku tak punya keberanian saat itu untuk duduk di sana, duduk di tengah keramaian orang-orang yang saling bercengkrama, sambil menyeruput kopi dan mengamati indahnya latte art dihadapan mereka, atau yang saling tertawa dan diam mengamati layar laptopnya, pokoknya saat itu aku betul-betul merasa asing, seperti aku bukan bukan penduduk bumi, aku bukan bagian dari mereka, sepertinya aku ini pednuduk Mars. Akhirnya, karena keterasingan seperti itu aku mengurungkan niatku untuk duduk di depan.
Sudah terlanjur insecure, aku pun sampai gak berani untuk langsung datang ke depan untuk memsan minuman, saat itu di kepalaku banyak sekali praduga yang boleh dikatakan mencabik-cabik kepercayaan diri, haha lucu memang. Padahal gak abakal ada juga orang yang peduli, dan mau mengamati eksistensi seorang aku, tapi ya lagi-lagi. Akhirnya lagi, aku hanya terdiam di belakang dekat dapur kafe sambil menunggu hujan reda. Tapi tampaknya semesta tidak suka buru-buru, hujan tak juga reda. Aku tak juga pulang, tak juga memesan kopi atau minuman atau apapunlah yang bisa kunikmati di sana. Aku begitu tenggelam dengan sendirianku, bermain hape pun tidak juga, aku cuma mengamati lumat-lumat sebagian dinding kayu yang tersusun percis di depanku yang menghadap jalan keluar.
Sedikit hujan tak lagi sesak, air langit mulai sedan. Setelah lama merenung di belakang akhirnya aku berani ke depan untuk memesan minuman. Saat berjalan menuju ke depan, hal yang terproyeksi dengan jelas dalam pikiranku adalah sepertinya wajahku konyol, cara berjalanku aneh, langkah berat dan seakan batako-batako tempatku menginjakkan kaki jadi lebih panjang, sehingga perjalan ke depan terasa sangat jauh, padahal tidak, Tidak, karena semua proyeksi-proyeksi itu hanya ada di dalam kepalaku saja.
Aku ingat betul saat itu, minuman yang kupesan adalah Kopi Shake. Filosofi paling sederhananya kopinya diguncang-guncang, begitu saja yang kutahu, dan tampaknya kopinya tetap hitam tidak kenapa-kenapa. Dan, walaupun sudah berani memesan kopi, tidak dengan duduknya. Aku tidak duduk di depan, aku kembali ke belakang. Duduk dengan sendirian, kembali menatapi dinding kayu dan pagar. Perjalanan ke belakang mulai terasa lebih singkat, namun satu hal membuatku terperanjat, kursi di mana tempat aku membenamkan diri di duduki oleh orang-orang yang sama asingnya sepertiku.
Tak banyak kata, aku hanya tegak di belakang salah satu dari 3 orang yang asing seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku dengan entengnya, meletakkan kopiku di atas meja, mungkin mereka juga terkejut dengan kehadiranku, tapi aku di wilayah yang aku dahulu duduk di situ dan merasa itu tempatku, jadi aku punya kepercayaan diri dan enggan hengkang dari tempat semula aku duduk.
Aku melihat ke 3 orang asing itu, mereka sedang makan. Aku dengan santainya, mengatakan apakah ada kursi yang lain?, itu perkataan seperti kontemplasi dengan diri sendiri. Salah satu dari mereka seperti tak nyaman, lalu mangkat pindah sambil makan berdiri lalu mempersilahkan aku duduk di salah satu kursi yang ada.
Sambil memegang piring, mengaduk nasi dan lauk, orang asing bertiga itu sedang makan dengan lahapnya, sambil bertukar cerita, itulah pemandangan di hadapanku saat ini, yang semulah nya memandangi dinding kayu dan pagar besi sekarang menjadi pemandangan orang yang makan, mau tak mau aku juga dapat kebagian cerita mereka, tapi tidak nasi dan lauk mereka. Tidak, aku hanya bercanda. Tapi tetap saja aku tak ingat apapun apa yang mereka bicarakan saat itu. Namun yang paling jelas terdengar adalah Mentawai.
***
Bukan Kora Wahana Permainan, dia Kora seorang Seniman Tato Mentawai.
Waduh, kopi sudah setengah menuju habis tapi hujan masih penuh tak berkurang tak juga reda. Tiga orang asing itu telah lenyap dari hadapanku, aku sekarang sendiri, angin semakin dingin, malam semakin gelap. Tapi di sini masih ramai, sebab semua orang beteduh dari hujan.
Menuju penghabisan kopiku dari setengah menuju perseperempatnya, seorang laki-laki datang dan duduk di hadapanku. Tidak berbuat apa-apa, hanya menata kursi dan duduk. Gayanya melipat kaki sangat santai, duduknya menghadap jejeran motor yang terparkir percis di hadapnnya saat itu. Aku sempat melihatnya, namun tak begitu yakin apakah saat melihat itu ada senyuman atau hanya seonggok wajah yang konyol di mukaku. Setelah kembali kuamati, dia adalah salah satu dari 3 orang asing yang makan di hadapanku tadi.
Dalam diam yang berkecamuk dengan bising rintik hujan di atas seng, aku dan satu orang di hadapanku tak ada membicarakan apapun. aku pun tak terlalu berani untuk memulai pertanyaan. Sampai satu waktu, meja bundar yang jadi pembatas kami, ia menyandarkan tangannya. Aku yang sudah sekian kali melihat, mendadak mengamati lebih dalam. Ada yang unik di dirinya.
Jka sebelumnya memulai obrolan agak berat, tapi memuji orang tak sama sekali menyisakan keberatan. aku bilang pada laki-laki itu, bahwa tato yang hampir menutupi sebagian permukaan pergelangan tangannya itu sangat cantik sekali, langsung tersirat sebuah hal yang tak biasa. Aku sudah sekian puluh kali melihat orang punya tato, tapi tak menyisakan kesan berarti, biasa saja, tapi tato kali ini berbeda.
Dengan pujian yang kualamatkan pada laki-laki itu berhasil membuat suasana lebih cair. Laki-laki dengan rambut sepanjang pundak, kulit bersih dan matanya yang sipit ketika tersenyum itu ternyata cukup ramah menyambut orang baru. Bak salam disambut tangan terbuka, keramahtamahan itu terus lanjut sampai malam semakin tenggelam, hujan semakin reda tapi obrolan yang ingin selesai.
Masih dalam radar malam, tak repitisi banyak hal yang kami bicara, bicara soal tato sudah pasti, itu jadi bagian yang paling banyak kami bahas. Mulai dari motifnya, proses pembuatannya, sampai kilas balik eksistensi Tato Mentawai masa kini. Jika temanku bilang aku orang yang tidak serius, kali ini mendengarkan soal Tato Mentawai, dua telinga aku pasang mode serius, mataku menatap laki-laki yang ada di hadapanku, selain karena bising hujan, juga istilah-istilah yang ada di Tato Mentawai betul-betul asing sekali.
Kata dia, tato mentawai itu banyak sumber inspirasinya dari alam, dan hal-hal yang dekat dengan seputar kehidupan orang-orang Mentawai. Ia mengatakan bahwa alam dan orang-orang Mentawai hidup berdampingan. Satu hal saja, salah satu tradisi yang masih berjalan hingga saat ini, di Mentawai ada makanan pokok yang tidak seperti kebanyakan masyarakat Indonesia konsumsi. Di sana orang Mentawai masih eksis mengonsumsi sagu sebagai sumber pangan. Ia jelaskan prosesnya dengan sederhana, mencoba menjabarkan skema pengolahan dengan apik kepadaku, sebab ia tahu aku beneran tidak pernah melihat orang mengolah sagu. Cerita-cerita, singkatnya pada sagu ada yang berkaitan dengan tato, karena sagu bukan hanya sekadar tumbuhan, ia juga sumber kehidupan sampai ia dijadikan motif, sampai alat menghaluskan sagu secara konseptualnya juga dijadikan motif tato, namun untuk filosofisnya sendiri dari yang kudengar punya makna yang lebih dalam. Jika boleh mengulik ingatan dan kalau tak salah ingat, motif penghalus sagu yang berada di punggung tangan itu artinya sebuah kemapanan.
Atmospir perbincangan malam itu makin hangat, sebelum melanjutnya obrolannya lagi laki-laki yang banyak menjelaskan tentang tato Mentawai itu, menggunakan sendalnya, lantas meminta izin sebentar untuk pergi ke depan. Aku yang saat itu mencoba mahfum, mengamini permintaan. Katanya ia mau mengambil rokok, sebab memang sedari tadi tak kulihat ada asap yang mengebul.
Kulihat dia berjalan pelan-pelan, sangat santai, sampai akhirnya raib dari radar penglihatanku. Aku alihkan pandanganku, kedua mata memandangi pagar dan dinding kayu, mengandaikan saat aku berjalan seorang diri ke depan untuk memesan kopi, kakiku bagai terseok-seok, kasian nian. Berjalan seperti pincang dan juga muka konyolku membuat mengkekeh seorang sendiri, merasa geli.
setelah beberapa waktu, rupanya laki-laki itu kembali. Seperti membaca yang berhenti di koma, cerita pun dilanjutkan. Dengan berbagai materi yang telah banyak dia bagi, aku tak jarang melempari dia dengan pertanyaan ingin tahu. Satu hal pertanyaan yang begitu melekat di ingatanku, saat kutanyai ia tentang alat menato. Ia menganggukan kepalanya, menjelasakn jenis kayu khusus yang dipakai untuk menato, kayunya bisa didapatkan di hutan di Mentawai. Namun sayang aku lupa nama percisnya. Sebelum akhirnya menjelaskan sampai di sana, ia juga kesulitan mendiskripsikan istilah kayu itu, sebab bahasanya berbeda.
Yang kulihat saat itu, tangannya sambil mempraktekkan bagaimana tekstur kayu itu, sekeras mungkin supaya tebayang di kepalaku bagaimana alat itu ada. Aku mengikuti gerak jarinya seakan menggambar di atas udara. Oh begitu kataku, walaupun sebelumnya tidak begitu terrbayang di kepalaku. Tiba-tiba saja dia beranjak dari tempat duduknya, lantas menghilang ke arah sebuah ruangan yang ada di belakangku. Katanya, tunggu ya. Aku bingung bukan kepalang.
Nah ini dia, ini dia alatnya. Dijunjungnya sambil menyodorkannya ke arahku, aku yang tak sumbar melihatnya takjub sambil dalam hati membatin, ini orang totalitas sekali, padahal aku gak ada minta untuk ditunjukkan dan dia secara cuma-cuma mau menunjukan alat tatonya. Sebelum akhirnya aku menggapai alat tato itu, terlebih dahulu aku minta izin memegangnya, dan ia pun mengizinkan. Aku amati dengan lumat-lumat alat tersebut, terus bertanya apakah semua alat tatonya berpola seperti ini?. Dia menjawab, tidak juga. Tergantung kepada siempunya alat tato, dia mau bentuk yang bagaimana. Kalau milikku ada sisi yang bergerigi itu simbolisasi dari budaya Mentawai. Lanjut ia menjelaskan, gerigi berbentuk runcing ini seperti gigi-gigi orang Mentawai zaman dulu, katanya. Sebelum aku memotong, dia mempraktekkan kolaborasi dua alat tato yang saat itu digenggamannya. TAK..TAK... bunyi dua kayu yang diadu, oh betul kayunya keras, batinku.
Ada aku bertanya soal bagaimana proses penatoannya, ia menjelaskan kalau sekarang meraka sudah adopsi sesuai dengan prosedur standart keamanan, istilah lebih modren. Misalnya dulu menggunaka jelaga sebagai tinta kini mereka telah gunakan tinta khusus tato, selain itu dulu jarum yang dipakai untuk membentuk pola menggunakan duri ikan atau benda tajam lainnya kini telah menggunakan jarum khusus tato. Kini aku mulai paham sedikit soal budaya Mentawai. Namun omong-omong sepanjang obrolan kami belum berkenalan, haha. Akhirnya aku bertanya namanya, dia juga belum kenal denganku. Ku bilang namaku Tika, dan dia jawab namanya Alex, Alexander Kora Sakodobbad. Biasa dipanggil Kora. Semula aku tak bisa merangkap namanya, minta berulang disebutkan kembali. Dia menunjukan pergelangan tangannya, ada sebuah inisial. Ini namaku Alexander Kora Sakodobbad.
Panjang cerita, yang ingin aku garis bawahi dari percakapan kali itu bersama Kora adalah sebuah quotes darinya, dia bilang Tato Mentawai itu bagian dari baju. Baju abadi yang akan dibawa sampai mati.
![]() |
| Dokumentasi (Kora) |
Dia panggil aku, dengan Jak Tika. Hah jak?, aku kelimpungan maksudnya apa itu Jaj-jak?. Dia menjelaskan Jak itu sapaan dari Mentawai. Ouh baiklah, sekarang aku memanggilnya Jak Kora, walau sempat berkali-kali sulit melafalkan namanya karena yang kutahu Kora itu nama wahana permainan di pasar malam, tapi diam-diam aku pikir Kora itu nama yang keren.
***


Komentar
Posting Komentar