Hal yang Bikin Orang Dewasa Lebih Risau

 Mengapa orang dewasa selalu lebih khawatir  disalahpahami oleh anak kecil, ketimbang sesesama orang dewasa. Selalu ada dorongan untuk bisa menjelaskan dengan gamblang suatu alasan kepada anak kecil, mengapa hal A terjadi dan hal B terjadi, karena ini dan itu. 

Dan orang dewasa itu harus memastikan bahwa apa yang dipahaminya sejalan dengan apa yang ditangkap oleh anak kecil itu. 

Sekitar lima hari lalu, teman kakakku berkunjung. Ia membawa dua anaknya, yang pertama usia 6 tahun dan anak kedua berusia 10 bulan. Kami bertemu di Taman Bendi yang ada di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. 

Di sana pertemuan pertama kami, sejak aku tinggal di Jakarta. Di pertemuan itu ia hanya menghabiskan waktunya dengan kakakku yang merupakan teman seperjuangnya sejak duduk di sekolah menegah pertama dan sekolah menengah atas yang sama. 

Sedangkan aku  bermain dengan dua keponakan dan  anaknya teman kakakku. Seperti aktivitas yang biasa dilakukan orang di taman, kami hanya berkeliling mengintari taman yang tak luas juga pemandangannya  justru didominasi dengan kuburan. Omong-omong tamannya sangat dekat dengan kawasan pemakaman umum. 


Biasalah untuk mencari sensasi keseruan, satu kali aku yang menggendong anak usia usia 10 bulan dan dua keponakanku berlari kecil-kecilan, sampai tak sadar meninggalkan satu anak usia 6 tahun di belakang kami. 


Ia menjerit, meraung. Menangis sejadi-jadinya. Dari apa yang kulihat, dia berusahan mencari atensi orang-orang di sekitarnya, supaya menjadi perhatian banyak orang. Saat aku    mendengar itu aku  kembali ke belakang, memastikan dia kenapa. 

Dalam posisi  sedang menggendong seorang bayi, tentu aku kembali sambil tergopoh-gopoh. Lumayan panik, soalnya anak usia 6 tahun ini menangis  cukup kuat. 

Setelah dekat aku tanya, kenapa dia menangis? jawabannya, kakinya sakit, tidak bisa berlari. Aku percaya, memang  di lututnya ada luka  karena sebelumnya jatuh. Tapi dia masih meraung, barangkali kesal. 

Terus aku bantu berjalan. Dia belum mau berjalan. Anak itu masih meraung menyalahkan aku kata dia aku sengaja meninggalkan sendiri di belakang. Aku masih diam, hanya berusaha menenangkannya. dan membantunya untuk dekat dengan tempat duduk dan istirahat. 

Tapi anak itu masih kesal, dia terus mengatakan bahwa aku sengaja meninggalkannya. Padahal tidak demikian.

Entah mengapa tiba-tiba muncul dorongan dari hatiku bahwa aku perlu mengklarisikasi, memberi penjelasan supaya ia tak salah paham, supaya anak kecil dengan rambul ikal itu tidak menyudutkan dan memberi kesan bahwa aku meninggalkannya. 

Lalu aku menjelaskan pada anak perempuan itu, bahwa aku berlari dangan adiknya dan dua keponakan karena mau seruan-seruan saja. Bukan meninggalkannya. 

Anak perempuan itu masih tampak tidak terima, ia terpincang-pincang berusaha  menuju ibunya, dan tidak lupa sambil merengek. Tapi ia tidak bisa. AKhirnya aku menggendongnya. Ia  mengadu lagi pada ibunya bahwa kami meninggalkanya sendiri di jalan taman. 

Si Ibu yang melihat anaknya menangis melihat, tidak bertanya. Aku bilang ke Ibunya, anaknya menangis merasa ditinggal. Anak kecil itu kembali merengek, bilang ke ibunya kalau kakinya sakit dan kami sengaja meninggalkannya. 

Ibunya menjawab, kalau kaki sudah sakit tidak usah ikut berjalan, duduk saja di sini. 
Anak itu  pun diam.


Dari kejadian itu aku membandingkan bahwa orang dewasa lebih risau disalahkan anak kecil ketimbang orang dewasa lainnya. Kalau misalnya ada kesalahpahaman, orang dewasa biasanya lebih memilih membiarkan seperti apa anggapan yang berkembang di kepala orang dewasa lainnya. Tak berupaya dan cenderung tidak peduli. 

Toh nantinya tidak akan mengubah apa-apa.
 

Komentar

  1. Orang dewasa juga suka sekali menyulitkan tak hanya dirinya sendiri, tapi juga anak kecil. Orang dewasa menyamakan sudut pandangnya dengan sudut pandang anak kecil, padahal tidak bisa demikian. Orang dewasa suka sekali mengatakan "ah begitu saja kok", atau "hanya", sementara bagi si anak kecil itu adalah segalanya baginya. Dilihat dari sudut anak kecil manapun, ia melihat orang dewasa pergi darinya membawa adiknya, di sebuah taman yang luas dan asing, sementara ia tidak diajak. Kenapa hanya dia yang dibelakang? Itu adalah masalah. Si anak 6 tahun tak mengenal konsep "hanya", ia begitu kecil, begitu asing, dan bagi si orang dewasa itu hanyalah "hanya".

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah benar juga ya kak Rinai. Kok gak sampai sana pemikiranku ya huhu. Setelah baca komentara kk, aku jadi ingat dulu aku juga pernah merasakan posisi anak kecil itu dulu.. makasih kk Rinai

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer