Seperti Rindu, Ekpektasi Harus Dibayar Tuntas

Dua kali saya sudah baca novel Seperti  Rindu Dendam Harus Dibayar Tuntas Guratan Eka Kurniawan, aku baca.

Kurasa itu bentuk dendam  saya untuk saya sendiri yang telat paham sebagian kisah bagaimana Rona Merah dan Lakiknya punya hubungan dengan si Macan. Juga soal Paman Gembung balas dendam pada si Macan untuk lakiknya Rona Merah. 

Juga dendam yang dibalas Iteung kepada 2 laki-laki oknum tak lain tak bukan biang kerok melayangnya nyawa Rona Merah nan malang. Bagaimana Jelita muncul tiba-tiba diperjalanan panjang Ajo Kawir yang tak lain titik awal kemerdekaan birahi kembali. 

Dan rindu saya itu berbuah dengan rilisnya film yang mengadopsi kisah Seperti  Rindu Dendam Harus Dibayar Tuntas pada Kamis, 2 Desember 2021 lalu. 

Kabar ini tentu membuat aku harap besar  filmnya bakal ciamik bisa dikatanya sama besarnya seperti harapan Ajo Kawir bisa kembali ngaceng. Tapi walaupun begitu, lebih-lebih dahulu aku sudah wanti-wanti supaya gak ekspek tinggi dengan film yang diadopsi dari sebuah buku, seperti temanku bilang bahwa apa-apa yang ditampilkan di sebuah film itu sedikitnya 90 persen hasil point of view si Sutradara. 

Jadi begitulah ya, mawas diri! Haha. 

Film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas berdurasi 1jam 55 menit, lumayan lama, tapi untuk menampilkan visual kisah-kisah Eka Kurniawan, waktu itu sangat singkat bahkan untuk mencerita polemik awal Rona Merah pun tidak balen. 

Tapi ya memang, mungkin polemik sebuah film yang diangkat dari buku itu durasi, tapi menurutku jadinya setiap scane itu jadi gak maksimal menyoroti sumbangsih tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam hiduo Ajo Kawir. 

Misalnya Si Tokek (Sal Priadi), dia teman dekatnya Ajo Kawir dan orang yang berkaitan dengan mula kisah kontolnya Ajo Kawir tidak ngaceng, tapi cuma dapat sedikit detail-detail misalnya di buku ada Scane Tokek memberi tahu bahwa anaknya Ajo Kawir sudah lahir dan ada momentum Tokek memberi foto anak Iteung yang bukan anak dari seorang Impoten, tapi tetap juga Ajo Kawir sayang sama anaknya itu, sampai-sampai dia tempelin foto anaknya di langit-langit mobilnya. 

Tapi seperti yang di film, bagian foto anaknya ini berganti dengan bungkusan kue cup yang tertulis, "Ajo Kawir Aku Cinta Padamu," dibuat Iteung saat Ajo Kawir dipenjara karena membunuh si Macan yang renta dengan tongkat. 

Kemudian Jelita, percaya atau tidak, munculnya Jelita dalam film ini agak membuat orang mengkoreksi ingatan akan cerita yang dibuku, soalnya entah bagaimana seorang Jelita tersebut bangkit dari tumpukan sampah di pingir pantai yang di atas wajah seperti terbakar itu terbungkus kertas kue cup Iteung yang ukurannya lebih lebar daripada yang disimpan Ajo Kawir.  Kalau boleh jujur, aku cekikian pas lihat momen ini, sambil bilang "loh,, loh,, loh".

Terus scane lanjut menyoroti rumah Rona Merah, yang di dalamnya ada Iteung sedang bertandang melihat-lihat dan tampak mencari sesuatu, diamati Jelita nyembul dari jarak dekat lalu menghilang. 

Iteung sendiri pas di momen ini dibuat sutradara kisahnya memasang sesaji dekat rumah Rona Merah dalam piring lidi dilapis daun pisang, kembang-kembangan dan tentu buah pisang. 

Kalau hematku, sesajen ini sebuah usaha semiotik sarat makna dengan pendekatan budaya. Semiotik seperti ini banyak ditemukan di film-film thriller, horor. Kalau menurut interprestasi pribadi, sajen tersebut persembahan untuk Rona Merah yang matinya tragis sebab diperkosa ya dapat dikatakan matinya tak tenang. 

Tak lepas item-item sesajen yang simbolik seperti buah pisang tersebut familiarnya mengarah soal kejantanan lelaki. Lelaki di sini ya Ajo Kawir-lah. Sebagai penonton, aku suka kode-kode yang seperti ini. 

Di atas tadi menceritakan bagaiamana Jelita muncul di dekat Iteung, sedangkan cerita Jelita muncul dekat Ajo Kawir bikin mengernyitkan dahi. Tiba-tiba saja Jelita sudah ada di gerobak belakang Ajo Kawir, momen ini selepas mereka (Ajo Kawir dan Si Ompong) berhasil saing cepat dan meringsek mobil rivalnya,  Si Kumbang turun berem. 

"Oughk,, oughk,,," (Suara Jelita) 

 Cepat-cepat Ajo dan Ompong, mengecek gerobak belakang. 
Ngeng-i-ngeng, disinilah mula Jelita berkelana dengan Ajo Kawir. 

Izin ya Gan, aku mau berak dulu. Nanti kulanjutkan. 


Minggu, 5 Desember 21
Melanjutnya resensi film. 

Jelita adalah tokoh kunci kembalinya kengacengan burungnya Ajo Kawir, namun menurutku Jelita malah dapat sedikit fragmen dalam perjalanan panjangnya bersama Ajo Kawir.

Percakapan sederhana nun sentimentilnya bersama Ajo Kawir tidak dapat porsi banyak, padahal kalau dipikir-pikir itulah proses Ajo Kawir bebas dari keloyoan burungnya. 

Di film, Jelita hanya ada sedikit kesempatan ngobrol bersama Ajo Kawir, verita Ajo Kawir yang dimabukkan oleh keelokan Jelita tidak juga ada. Tiba-tiba syak wasangka Jelita menghilang sesaat setelah menyinggung pengalaman traumatis Iteung muda. 

Dengan berceritanya Jelita, dan tangannya nakal, membuat Ajo terperenjat dan melarikan diri. Tiba-tiba juga Jelita melenyap dan kisahnya selesai. Ajo Kawir pulang ke rumah bertemu Iteung. 


Komentar

Postingan Populer