Suara-suara di Balik Bilik Bude Urut
Aku mendengar suara miringis, sesekali ditandingi suara ampun dari bilik kamar yang tak terlalu luas. Kuimbui bau minyak terapi jika angin sekelebat lewat merongrong batang hidungku jadi terasa pedas.
Sebelum akhirnya masuk ke ruangan ini, langkahku agak terseok-seok sebab ada cidera ringan di engkel kaki kananku. Aku sudah begitu bergegas untuk sampai di sini tapi toh akhirnya aku tetap harus menunggu karena yang bakal berurut ada 2 yang sudah lebih lama mengantri.
Sudah 22 tahun hidup, berlari dengan kaki baik di dunia mimpi dan nyata, baru kali ini merasakan apa yang namanya kaki terkilir.
Saat mengingat moment kaki keceklik ini, aku tetap bisa menyunggingkan tawa geli dan miris, ini semua karena aku terlalu girang hari itu.
Sore hari sebelumnya, aku bersama teman-temanku bermain permainan diam di tempat, bila ketahuan bergerak akan sesumbar disiram dengan air parit. Dan akulah si petugas penyiramnya.
Saat kupergokin pemain masih bergerak, buru-buru ingin segera aku membah-kan air yang ada ditoplesku.
Saat sudah dekat, memang pesertanya kuyup tersiram air bah dari toplesku, itu tak lain juga momen yang sama di mana otot engkel kakiku moncot dari jalurnya. Tiba-tiba jadilah aku pincang, dan sulit berjalan.
Aku dan temanku tertawa galak. HAHAHAHAHA, macam tak ada ampun. Salah satu melempar kata "Bagaimana bisa kau jatuh bawa air, begitu?!", dengan nada cekikikan. Aku sendiri pun tak dapat menahan tawa.
Akhirnya aku tersadar, kaki ini terkilir dan mesti buru-buru dapat penanganan, aku cari teman yang yakin dan berani menarik kakiku lurus supaya cideranya tak tambah parah, kucari-cari, tapi tak seorang pun menawarkan diri dan ogah dengan risiko yang lainnya.
Aku mesti toleran.
Akhirnya acara itu selesai. Cepat aku kembali ke rumah, duduk dan mengamati, memutar engkel ke kanan ke kiri, ke atas ke bawah tak henti. Belum ada tanda-tanda pembekakan.
Selepas salat magrib aku amati engkelku, rupanya bendol sedikit mengumbul dekat mata kaki, aku pencet terasa ngilu sampai menembak otak kananku.
Tampak pikir panjang, aku tancap gas mengadu pada tukang urut dekat rumahku.
***
Sampailah aku di tempat tujuan, aku hampiri seorang lelaki jangkung tingginya mungkin 183 cm, agak pelontos.
Aku bertanya "Apakah bude urut itu di rumah," (Sebab kupikir dia anak si bude urut)
Jawabanya seperti ini "Coba cek di dalam ya", " Sepertinya kamu harus mengantri"
Baiklah aku mengeceknya.
"Bude masih bisa urut, kan" tanyaku.
"Jawabannya sama, aku mesti mengantri eksekusi dua orang yang lebih dahulu datang ke tempat ini.
Sembari menunggu giliranku datang, aku duduk di atas kursi panjang yang tak jauh dari daun pintu ruang urut itu.
Aku mendengar semua perbincangan yang gahar dibicarakan tukang urut dan pasiennya. Sesekali pasiennya menringis minta ampun, tapi kemudian kembali dengan nada bicara normal, ya nada normal itu tujuannya tak lain untuk menaklukkan kesal sakit di otot-ototnya.
Namun yang lain di bilik kamar urut itu, kadang suara bude naik turun, gak lama ke nada normal lalu mendadak rendah jadi berbisik sesak didengar. Seakan banyak telinga yang menempel di dinding kamar urut itu.
Nada rahasia yang berbisik itu, ku bayangkan tampak seperti paranormal dengan aji-ajian, padahal yang bude dan pasiennya bincangkan soal pernikahan.
Sebab terlalu bebisik tak semua ditangkap daun telingaku, banyak rahasia yang mereka bincangkan, tampaknya seru dihayati. Tapi sayang, orang berurut tak betul-betul sadar akan perbincangan saat itu. Lantaran ia sudah merem-melek kesakitan atau bahkan keenakan diurut.
Maka kupikir tak heran, di bilik warna hijau pandan yang dindingnya bau minyak terapi ini banyak rahasia-rahasia, dan tentu saja bude urut ini dapat banyak rahasia cerita hidup pasiennya yang gak sadar kelewat banyak bicara soal problematik pribadinya. Lebih-lebihnya, ia tak tahu kalau si bude bakal ceritain cerita yang sama ke orang lain dengan begitu randomnya.
Lantas, sampailah giliranku setelah kurang lebih 1 jam setengah menanti, masuk aku ke ruangan urut itu, yang kulihat banyak gelaran sarung-sarung di atas kasur.
Dan tentu saja, minyak urut dan sedikit wangin handbodi. Ku mulai duduk, tapi bude urut menyuruhku untuk berbaring.
Aku bilang bahwa hanya kaki kananku yang akan diurut, lantas mulai bude mengiyakan. Tak lama mungkin hanya 35 menit proses urut itu berlangsung dan saat selesai aku pulang ke rumah.

Komentar
Posting Komentar