Sepotong Kisah di Malam Punggahan

 Di pertengahan bulan Muharaam, kebudayaan kejawen masih begitu kental di kampung halamanku.

Kalau saja bukan karena pandemi virus Covid bukan hal tak mungkin pegelaran doa dihamburkan sepanjang mujungan bulan Muharam mengharap ditolak segala bala yang mendekat. 

Sejak kecil kami hidup dilingkungan seperti itu, begitu asyik dan menarik. Setiap perjalanan pulang sekolah yang jauh, di atas becak motor yang sempit, kami sibuk mencanangkan menu makan malam apa yang bakal kami isi di rantang-rantang nasi. 

Bila ada kesempatan, bolehlah kami si bocah ingusan memesan lauk pauk favorit untuk dihidangkan di malam Punggahan. 

Bila pun tak kesampaian, sebanter-banternya ibuk bakal membuatkan mi goreng laiknya bekal siang hari di sekolah bedanya hanya karena kerupuk merah sebagai remah-remah buatnya agak istimewa. 

Di lain cerita, biasanya teman-temanku yang bapaknya peternak, tak keberatan memotong seekor kambing untuk dimasak buat orang sekampung di malam Punggahan. 

Malam-malam kumpulnya orang sekampung ini, yang aku lihat tidak ada lagi batas-batas sosial, semua merata. 

Baik yang kaya atau miskin, bisa icip bertukar lauk yang ada, semua orang menyajikan lauk yang paling istimewa dari masing-masing dapur belakang yang mengebul di sore-sore hari. 

Malam Punggahan juga jadi tanda tidak ada satu tingkat menu paling istimewa, menu biasa-biasa, karena semua menu makanan yang tersusun rapat di rantang-rantang motif loreng tentara itu semuanya dimasak untuk kebahagian orang bersama-sama.

Lama sebelum akhirnya bersantap ria, pesohor desa, pembesar kampung dan pengemuka agama saling memberi sambutan. Ada yang senang malam Punggahan jadi kenyataan, ada pesohor desa yang bantu fasilitasi kegiatan dan pemuka agama yang berikan wejangan juga pripunan doa-doa jagat. 

Bagian yang paling seru, anak-anak sampai dewasa sengaja mengantri menggotong liter-liter airbyangbsudah di doakan, yang di dalamnya tercpur bermacam rupa kembang-kembanh segar nan wangi. 

Air ini biasanya digunakan untuk menyirami halaman rumah, konon kayanya air ini bisa menolak bala yang hendak masuk ke dalam rumah. 


Komentar

Postingan Populer