Bereundak

Saya terbujur menentang garis-garis simetris asbes rumahku. Memandangi lekat-lekat semua sketsa abrak di langit-langit kamar dan terburai bersama imajinasi yang tiba-tiba muncul dan silih berganti. Aku khayalkan diri ini mengambang di ruang hampa tanpa massa di ruang yang ukurannya tak lebih besar dari lobbi mengantri makan malam para santri. Sesempit itu lah hati ini kadang ketika hrus menerima kenyataan, waktulah yang jadi titian untuk penerimaan itu. Sesungkan melihat wajah-wajah yang sudah lama tak saling sapa, terkadang ketika aku sudah sampai pada penghayatan yang dalam, tak ada yang mampu aku lakukan, kecuali menyaingi kehadiran diriku di sini. 

Masih disibukkan dengan selumat pertanyaan -pertanyaan yang berubah dan mengherankan, kain panjang yang terjulur mulai sekat ventilasi pintu hingga hampir menyentuh lantai itu, hampir tidak pernah lagi ditukar dengan yang baru, mungkin hanya perlu mencuci untuk melunturkan noda-noda dan debu yang menempel di permukaannya, tapi karena hal itu juga, kini kain panjang tersebut warnanya sudah tak lagi menarik untuk di pandang-pandang melenakan, yang sesekali mengegelayut gemulai di hembus air dari jendela kayu kamarku yang juga suka bercerita ketika hendak dikatup menjelang senja. Di tengah pengembaraan imajiku, aku punya suara Bapak dan Ibu sambungku menyinyiri hari esok, yang serasa akan lebih sulit dari hari ini. Percakapan mereka yang terlalu berdurasi cekat-cekat tidak dapat seluruhnya aku dengarkan dengan baik, karena itu di luar kemampuanku. Aku hanya dapat mendengar percakapan yang terlalu dominan di sesi-sesi percakapan kala itu. Di saat perjamuan dengan lauk pauk seadanya, bapak meneriakiku dari luar di balik kain panjang itu. Menyeru padaku yang kerap enggan menyatap makanan malam bersama di ruang tamu itu. Beberapa seruannya dapatku hitung beberapa kali yang tak kusahuti, aku benar-benar merasakan ketiadaan rasa lapar seperti manusia-manusia anyelir di muka bumi ini.

Saat itu aku menghayati, perjalananku di pemukiman terakhir para manusia, yang cuma punya lahan sepetak luas badannya, dan punya ruang yang dalamnya setegak tubuhnya berdiri, serta dua patok penanda untuk memudahkan manusia-manusia hidup ketika hendak berkunjung dan mengingat kematian. Di pemandangan itu aku lihat, jejeran rapi tanah-tanah yang permukaannya agak munjung melangit dengan bentukan landai dan terjal serta batanga-batangan bunga raya yang seperti mengerjap-ngerjap mati kebingungan, karena memng hampir sebulan lebih tidak ada musim penghujan melanda di perkampungan ini. Di sini pemandangan cukup gersang dan kering, hanya dahan-dahan sawit yang saling menjalin merundup adem-ayem suasana di sini. Aku terdiam. Hem.. Sepinya. 

Awalnya aku khawatir sebelum sampai di sini, rasa khawatirku bukan tanpa musabab, ini semua begitu asing, padahal di masa yang akan datang, sudah pasti aku akan menjadi bagian pemukim di permukiman ini. Bukan hanya itu, rasa khawatir juga sampai ketika aku terpaku pada satu tanah yang permukaan tak terlalu munjung seperti yang aku jelaskan di atas sebelumnya, di lapak ini, pemukimnya seperti sudah lama tak pernah dikunjungi, di permukaannya aku melihat daun-daun yang terhambur sudah kering dan hampir terburai dengan jutaan makluk kosmik di atas tanah kuning ini. rumout-rumout liar sedikit menyemak di garis bibirbgundukan tanah tersebut. 

Komentar

Postingan Populer