Dis(abilitas)kusi di Masa Pandemi

Sejak pandemi ini berangsur-angsur menyisipi semua lekuk hidup manusia, dan lebih banyak memaksa manusia untuk beradaptasi gaya hidup baru, menurutku. Semua kegiatan yang biasanya dilakukan langsung bertatap muka, kini agaknya perlu server untuk saling berhubungan, hingga kebijakan untuk tetap diam di rumah yang akrab di telinga kita dengan istilah social distancing dan physical distacing, seyogyanya dipatenkan sebagai paket selamat untuk pencegahan penyebaran Corona Virus (Covid-19). Walaupun tidak menjamin seseorang benar-benar tidak terpapar virus bermahkota ini. 

Namun semua ini tidak hanya disandingkan dengan hal-hal negatif saja sih menurut aku, beberapa hal terjadi dengan banyaknya peluang orang meramaikan panel-panel tertentu, misalnya pendidikan. Seperti yang kita tahu di Indonesia saat ini, sakralnya dan value yang amazingly itu perlu dedikasi dan pengorbanan untuk dapat merasakannya. Dahulu kala orang sering bilang, kalau mau menyicip bahkan merasakan ilmu, perlu berkorban untuk sampai kesana. Bayangkan seorang murid yang naik-turun bukit, menyintas jurang terjal demi berguru untuk ilmu dan bersusah payah untuk itu. Kalau sekarang modal via server pun kita sudah sampai ke Amerika, Australia, atau Jepang katakanlah. Tanpa harus bertaruh nyawa dan napas tersengal-sengal, melihat duri di sepanjang perjalanan itu sungguh hal yang menyesakkan. 

Perlu diakui aksesbilitas pendidikan melalui forum-forum diskusi terbuka lebar, bebas, dan pastinya gratis untuk umum (tidak memandang latar belakang pendidikan, ekonomi budaya, dan agama). Kalau saja keadaan masih sama seperti tahun lalu, bisa diyakinkan beberapa kegiatan diskusi sedikit banyaknya pasti dikenai biaya, istilahnya biaya konsumsi ataupun biaya narasumber (biasanya untuk menangkali biaya transportasi sih) bisa jadi dipungut bersama atau sukarela si penyelenggara atas dorongan nurani upaya menjaga kewarasan publik, ini bukan bermaksud menodai gerakan-gerakan akar rumput, sedikit pun tidak ada niatan seperti itu, saya menjelaskan beberapa kondisi yang pernah saya temui. 
Saya ingin menyampaikan beberapa keluhan saya terkait dibukanya diskusi publik baik langsung atau pun daring. Kita sebaik makhluk yang terus belajar, setiap aktivitas selalu memiliki evaluasi, dan kesalahan yang tercipta itulah sebagai acuan untuk lebih baik lagi. Dalam sebuah forum diskusi yang akan terus e memaparkan informasi dan kita semua berusaha maksimal agar informasi yang dibicarakan dapat ditangkap oleh audiensi kita. Namun kita lupa beberapa teman atau audien kita memiliki cara komunikasi yang berbeda. Di sinilah tugas kita sebagai yang terlibat di diskusi menciptakan lingkungan diskusi yang ramah dan inklusif bagi mereka. 

Dalam Hal ini teman yang memiliki komunikasi berbeda adalah teman-teman tuli. Temsn tuli adalah teman-teman yang berkebutuhan khusus untuk mendengar saja, bukan yang lain-lainnya. Dan sebutannya Teman tuli itu lebih baik daripada ratusan rungu dll, karena menurut artikel dan sosial media organisasi inklusif penyebutan tuna rungu jatuhnya seperti kelemahan mereka (Teman-teman tuli) di kehidupan sosial. Aku akan mulai dari jauh sebelum Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di pekanbaru jauh pertengahan Maret lalu. 

Dinas Informasi atau Kehumasan Gubernur Riau dalam menyampaikan informasi terkait Covid-19 tidak menyertakan Juru Bicara Isyarat (JBI), sehingga ini menyulitkan teman-teman tuli memahami informasi ini. Mungkin beberapa teman-teman tuli dapat membaca gerak bibir (oral) tapi bagaimana pun juga pemenuhan informasi itu adalah hak semua orang. Dan beberapa kali setelah ini, Komunitas Tuli di Riau beberapa kali mecoba mengingatkan sosial media Humas Gubri Riau untuk menyertakan subtitle dan pada akhirnya penyediaan JBI.

Mengutip dari International Disability Alliance merekomendasikan beberapa penangan terkait petunjuk mitigasi infeksi,rencana pembatasan ruang gerak publik, dan layanan yang ditawarkan, dalam berbagai formatyang dapat diakses (aksesibel), yaitu komunikasi media massa harus mencakup penjelasan berbentuk tulisan (captioning), bahasa isyarat nasional, pewarnaan huruf yang sangat kontras, informasi yang dicetak dengan ukuran besar (large print information). Kmudian menambahkan juru bahasa isyarat yang bekerja di lingkup kerja darurat dan kesehatan harus mendapatkan perlindungan kesehatan dan keamanan yang sama seperti halnya pekerja kesehatan yang berurusan dengan COVID19. Juga seperti yang kita tahu selanjutnya pandemi dan penerapan PBB pemerintah pusat menganjurkan untuk selalu menggunakan masker, maka hal ini juga menjadi penghalang komunikasinya teman-teman tuli, lahirlah kreativitas suami istri dari Semarang dengan jebolan masker transparannya yang sangat membantu teman-teman tuli saling berkomunikasi. 

Kembali pada bahasan ruang diskusi umum, saya sering mengikuti Webinar yang berserak di beranda sosial media saya, mulai dari Live IG, Streaming Yutub hingga diskusi via Zoom. Beberapa kali pula saya mengikuti Webinar yang dilakukan NGO yang di mana mereka memiliki visi misi peduli kaum yang termarjinalkan, namun kali ini sejauh pemahamanku, Lembaga NGO ini kebablasan dengan Visi Misi mereka, saya pun tak yakin sekali (bisa jadi karena lupa, atau tidak tahu atau juga mungkin tidak sempat entahlah) yang pasti mereka tidak menyisipkan subtitle pada hasil-hasil diskusi mereka di platform sosial media. Dan semoga dalam waktu dekat Organisasi NGO tersebut dapat membaiki hal tersebut, supaya media-media alternatif terus bersatu suara meningkat kepedulian terhadap teman-teman korban dari termaginalkan. 

Komentar

Postingan Populer