Simpulan yang Hipokrit
Dengan menyebut nama tuhan yang Maha Esa, Aku mau bersyukur malalui tulisan ini. Aku sungguh berterima kasih hingga sampai saat ini aku masih mampu bernafas dengan lega, ruang paru-paruku masih dengan leluasa mengembang kempis seperti pompa balon kanak-kanak yang banyak kalian temui di pinggir jalan Taman Kaca Mayang, cuma saja yang satu ini aku saja tidak tahu bagaimana motifnya. Selain itu aku mau berterima kasih atas mudahnya semua urusan akhir-akhir ini, ya walaupun tidak sampai benar-benar sempurna, setidaknya aku tidak terlalu berpeluh-peluh kesusahan karena Tuhan tau aku bkan orang yang kuat seperti kebanyakan orang-orang sekitarku mengira. Huhu. Dan juga aku mau berterima kasih atas masih menguatkan buntalkan perutku yang dikukungi tulang rapuh dan sedikit lemak. Hampir dua hari ini aku seperti kehilangan nafsu makan, merasa seperti ada yang hilang dari hidup, ketidaklengkapan itu membuatku sedikit merasakan bosan untuk menguyah nasi dari bulir-bulir beras zakat, yang beberapa bulan lalu disedekahkan kepadaku. Sekilo setengah jatah yang diberikan kepada anak kosan yang hampir genap 3 bulan tidak kembali ke kampung halaman, tapi akhirnya ia menyerah juga.
Tulisan ini aku tulis di sebuah warung yang tak menyediakan kopi atau sepiring roti bakar khas Bandung, atau manusia hipokrit yang menantang dunia atau para waria yang manggung bahagia dan sukarela, yang tak pernah meminta lebih dari harta yang banyak orang cari setengah mati, mereka juga akan cukup senang bila kau hanya bertepuk tangan apresiasi atas penampilannya tadi, di warung ini juga aku tidak akan temukan germo yang menawarkan peliharaan yang diekploitasi untuk mengumpulkan pundi-pundi nirlaba sialan dan juga pastinya tidak akan kutemui di warung ini, seorang tuna susila yang merasa nyeri klirotisnya habis dijilati para pesilat lidah, seperti misalnya para politikus yang berebut tender negara.
Di warung ini aku hanya bisa duduk bersila, merapatkan punggung belakangku ke dinding yang dingin, sedingin hatimu yang telah belalu, sikapmu yang kalud yang tak mungkin bisa aku tembus bahkan dengan jimat mutakhir sekalipun, sesekali juga aku meneduhkan pandanganku dari silaunya peneranga tempat ini. Jika punggungku lelah berlama-lama tegak, tak akan ku indahkan keanehan tekuk leherku yang tak lagi tangguh memikul beban ini, sesekali akan aku bersandar di dinding kayu yang tingginya tak sampai satu meter ini, karena memang jarakmu yang sudah sangat jauh mana mungkin terjangkau olehku untuk menyandingkan kepalaku di bahumu membidang dan nyaman. Dan sekarang sisi melankolisku beraksi, setiap kata yang terturah di layar tempat kalian akan meneruskan bacaan akan dipenuhi dengan kesesakkan dan kehilangan percaya tentang apa yang disebut-sebut pungga soal cinta. Duh , ditambahkan suara musiknya yang semakin meliarkan rasa kehilanganku di belantara rasa. Tuhan, tolong aku, aku masih hambamu kan?? Jangan pernah bosan menjadi Tuhan dari hamba yang bangsat seperti aku. Huhu. I love you Tuhanku.
Hampir satu halaman kupenuhi, aku tidak tahu lagi akan menulis apa dan bagaimana, terlalu banyak keresahan di kepalaku, jadi aku ragu memilih simpul mana yang akan diperbaiki pertama setelah bertahun-tahun njelimet dan lusuh. Memang terdengar seperti khayalan semua cerita di sini memang tidak ada yang asli, karena aku menulis ini semua di dunia maya, dan semua kahyalanku hidup di Mayapada..

Komentar
Posting Komentar