Male Panel Diskriminasi dan Distrupsi
Pernahkah kalian mengikuti sebuah diskusi tidak menampilkan sebuah kesetaraan gender? misalnya elemen-elemen yang terlibat seperti narasumber, moderator ataupun kepanitiaan hanya didominasi oleh satu gender tertentu? nah kasus ini dikenal dengan istilah Himposium, tapi pada tulisan kali ini saya akan membahas terkait ketiadaan partisipasi wanita di ruang publik sebagai pembicara.
Jujur, saya baru-baru ini saja akrab dengan istilah ini sejak di salah satu kesempatan, saya sedang sibuk membaca kolom komentar sosial media milik Lembaga Masyarakat (LSM) yang berencana melakukan diskusi publik terkait isu dampak Covid-19 di lini kehidupan dan seterusnya (karena saya lupa lanjutan judul diskusi waktu itu). Di poster yang ukuran persentase 1:1 itu jelas mengambarkan beberapa tokoh ahli, dan pengamat, yang didominasi oleh laki-laki, justru hal tersebut menimbulkan banyak pertanyaan netizen yang progresif juga kritis (dalam hal ini semua gender telibat untuk bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi) masalah Gender Equality (kesetaraan Gender), apakah pihak penyelenggara kesulitan untuk menemukan perempuan dalam membahas bincang-bincang publik? atau apakah tidak ada perempuan yang berkompetensi akan hal tersebut atau apakah memang tidak tersedianya akses untuk perempuan speak out loudly untuk membuat kebijakan tertentu dan menyampaikan aspirasinya di ruang publik?!
Tentu hal ini sudah gencar didemonstrasikan kepada publik, untuk tidak menciptakan Man Panel (Manel), Konsistensi ini ditunjukkan oleh United Nations (UN) pada kajian Office of the Special Adviser and Gender Issue Advencement of Women (OSAGI) yang menjelaskan bahwa wanita memiliki peran penting dalam negosiasi perdamaian, pembangunan perdamaian, pemeliharaan perdamaian, respons kemanusiaan dan dalam rekonstruksi pasca-konflik dan menekankan pentingnya partisipasi sebagai upaya pemeliharaan dan meningkatnya keamanan. Resolusi ini diadopsi dari The Security Council Adopted Resolution (S/RES/1325) on women and peace and security on 31 October 2000. menurut riset di Amerika hampir 91% koresponden percaya bahwa Gender Equality itu harus diwujudkan, namun sayangnya di panel-panel diskusi ketika ada pembicaraan perempuan yang terlibat di diskusi tersebut, hasil penelitian menerangkan 44% pembicara perempuan di seminar atau diskusi di institusi pendidikan tinggi mengalami kekecewaan. Hal ini dipicu karena kehadiran wanita juga di sebuah forum jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah laki-laki yang ada, melalui artikel Phillymag. com yang berjudul "I am feed up with Man Panel, Here's How We Change Them" persentasinya dua perempuan yang di tampilkan dengan delapan laki-laki, dan hal tersebut sering terjadi ketimpangan dalam mengambil kebijakan, karena dominasi dan reposisi perempuan di ruang publik yang tidak sepenuhnya ter dukung secara maksimal.
Tidak terhenti sampai di situ, mungkin dalam pembahas isu-isu umum kondisi ini mulai perlahan-lahan memperbaiki dan sedikit mulai membuka diri, bagaimana nasib-nasib pembicaraan untuk panel-panel keagamaan? di mana seperti kebanyakan dogma-dogma agama banyak membicarakan soal kepemimpinan lelaki sejak dahulu lebih utama. Bagaimana bisa terciptanya Non Manel di diskusi keagamaan? apakah itu hal yang tidak mungkin? atau sulit menjangkaunya karena seratnya berangkat dari sistem pemahaman yang patriarki??
Beberapa hari lalu, saya bertanya kepada kakak saya, yang menurut saya punya pandangan terbuka terkait pemikiran-pemikiran barat, namun dia juga bukan moderat tapi juga bukan konservatif. Saya bertanya kenapa tidak banyak perempuan muslim yang menjadi ahli keilmuan? ia menjawab singkat bahwa dari yang pernah dia baca sebuah riwayat Nabi Muhammad, perempuan itu lemah akal, kuat perasaan. Aku pun tidak bisa serta merta memahami uraian riwayat tersebut, karena aku harus membaca sendiri riwayat tersebut agar supaya lebih paham lagi. Jauh kita beralih pada cerita lainnya, dahulu wanita di Madinah lebih aktif dan progresif terhadap isu-isu kehidupan sosial, maka perempuan-perempuan Madina sering menyimak semacam khutbah di mesjid, yang saat itu ada Rasullulah SAW dan Umar Bin Khatab. Dengan sikapnya perempuan tersebut menampakkan diri dan bertanya hal yang ingin ia tanyakan, lantas Umar mengatakan bahwa ia tak bisa sembarang menampakkan dirinya di tempat umum (banyak orang) dan aku lupa bagai mana kelanjutannya, kemudian saya juga pernah membaca sebuah karya tulis yang dibuat oleh seorang muslimah, namun karena ketidakmampuan dan sempit kan akses untuk menampilkan diri pada masa tersebut, karya tulisan tersebut kemudian diganti nama pembuatnya dengan identitas lelaki. Jadi dalam Hal ini kesimpulannya memang sejak dahulu terbatasnya peluang untuk menampakkan diri dan akhirnya membatasi gerak perempuan sebagai pembuat kebijakan.

Dalam agama islam selagi masih ada lelaki, dalam segi peribadatan dan keilmuan seyogyanya haruslah di kedepankan seorang lelaki. Karena sejatinya hakikat perempuan itu lemah akalnya kuat perasaannya. Setuju dengan kk lelakinya kamu tu. Pengambilan keputusan lebih cepat kepada lelaki. Makanya pemimpin itu lebih tepatnya seorang lelaki. Bukan mengesampingkan dan merendahkan posisi perempuan. Semua ada porsinya dan kadarnya. Kalo lah islam mengkerdilkan posisi perempuan, tidaklah mungkin jamiman surga lebih dekat dengan perempuan. Dan sama sedekat itu jugalah neraka bagi perempuan itu. Pemikiran barat itu ada untuk merusak kaidah keislaman yang ada. Selagi kita tahu islam adalah kepercayaan yang benar, maka benarlah agama tuhan yang sedari awal itu. Agama tauhid
BalasHapus