Jangan mencuci tangan pakai air mata, karena korona belum tahu kapan akan berlalu.
Saya tidak tahu akan menulis sebuah apa pada kesempatan kali ini, karena sulit dapatkan ide yang menarik, bisa jadi korupsi waktu mengkhayal sebabkan semua hal ini menerpa penulis amatir malang seperti aku ini. Tadi siang saya melihat di beranda Twitter saya, dan agak merasa seperti apa menjadi dia. Bagaimana tidak bahagianya seorang publik figur seperti Awkarin mendapat banyak aprsiasi atas karya tulisnya yang telah disebarnya beberapa waktu lalu, dia banyak mendapatkan cinta dari para penggemarnya, dukungan dari teman-temannya, juga wejangan dari penulis senior yang ulung. Sungguh sekarang ia mendapatkan cinta, dari spread love yang tlah dibuatnya. Eh, btw cerita awkarin itu cuma sebagai pengantar untuk narasi yang bakalan aku bawakan malam ni. Aku beberapa waktu lalu, bersama temanku membuat kesepakatan untuk konsisten menulis apa saja di Blog masing-masing selama sebulan, padahal kami kenal dalam waktu yang singkat. Kami punya satu hal sama. Sama-sama merasa krisis dengan kemampuan, banyak merasa jauh tertinggal dengan teman yang lainnya. Tapi ternyata konsisten yang kami impikan itu tidak berjalan mulus seperti yang kami bayangkan sebelum rencana ini diketuk palu peresmiannya. Kami punya permasalah masing-masing mulai dari berjam-jam menontoni alilayar gawai karena kesultan memulai rangka cerita dengan ide gila yang sulit sekai dinarasikan, mungkin saja sempat terjadi konslet di batang otak, sehingga terjai kesalahan di sana. Yang penting harus rajin nulis.

Komentar
Posting Komentar