Hidup Tenang Dimulai dari Gesangnya Hati

 

Benar katanya Khalifah Ali ra, kita gak perlu menjelaskan soal diri kita kepada orang yang enggak suka sama kita, karena sebaik apa pun kita tetap yang dilihat suatu kejelekkan. Hematnya, kita bakal tetap pas di mata-mata yang pas.

Aku mesti mengilhami sebuah kata bijak, pohon yang tinggi, bukan cuma tinggi, ia butuh proses untuk tinggi. Butuh air, gizi, ketekunan, dan terawat. Butuh banyak perjuangan untuk tumbuh, tapi tumbuh bukan akhir dari segalanya masih ada hal-hal yang mesti dilanjutkan.

Hal yang dilanjutkan untuk bentuknya bertahan, bertahan sampai nadir penghabisan. Pohon yang tinggi bakal semakin banyak angin kencangnya, badai bakal silih beganti. Aku harus bisa memahami  kata bijak dengan lebih kondisional, seperti “Badai pasti berlalu” misalnya, ya badai memang berlalu tapi  badai tak pernah berhenti begitu saja, soalnya bisa saja banjir bandang menanti, puting beliung mengantri, gledek dan petir bergondang dan masih banyak hal-hal lainnya yang bikin syak wasangka.

Aku menulis hal ini semoga bisa membantuku menguatkan keyakinan diriku sendiri, aku mesti dini membangun self esteem yang baik pada diriku, gak ada yang lebih peduli dengan diriku kecuali ya diriku sendiri. Mungkin di luar, mata melihat kondisi semua aman terkendali, namun tidak jarang di dalam relung batin  aku kehilangan sosok diriku.

Aku selalu mencari hal-hal ‘lebih’ yang ujung-ujungnya bukannya membangunku malah justru melelahkan aku. Doaku hari ini pada Tuhan yang Maha Penyayang adalah semoga hatiku selalu lembut nemun teguh nan kuat, hatiku dijauhkan dari sifat iri, dengki lagi hasad, sebab lelah titik kehidupan sebab tak pernah puas.

Aku teringat satu kata bijak dalam memoriam “Gesang” sebuah biografi maestro musik Indonesia, Pak Gesang, yang mengatakan  bahwa hidup orang-orang yang tenang adalah yang tidak banyak tuntutan. Dalam buku itu aku belajar, sering kali hancurnya hidup sebab rakus, cemong hati soal kepuasan. intinya hidup harus bijak dan mesti legowo dengan apa-apa yang  ada pada diri kita.

 Namun itu tak menjadi jewantahan untuk tidak melakukan perbaikan-perbaikan yang perlu. Sebab seperti yang aku tulis di atas sebelumnya, hidup itu perlu bertahan. 

 

 

Komentar

Postingan Populer