Sebuah Bunyi-bunyian

 Jika diplesetin, sebuah bunyi-bunyian agak terdengar seperti hal-hal yang mistis, jadinya seperti "bunian". Hal mistis ini soal kenapa bisa bunyi-bunyian menjadi hal yang ajaib untuk dipercaya.

Percaya atau tidak, bunyi-bunyian punya satu kekuatan yang tidak terukur dan bahkan liar. Jika aku contohkan seseorang bisa begitu sedih ketika mendengar satu bunyi yang  begitu sendayu, ada orang yang bisa melompat, menggelengkan kepala karena bunyian yang memacu adrenalin. 

Ada orang yang begitu cinta mati dengan idol K-Pop sebab piawai bermain falseto, betul tidak? Ada juga orang-orang yang makin zuhud sebab bunyi-bunyi doa dan sebuah bunyi dari syair.

Ada orang yang  berjam-jam habis waktunya tergadai demi sebuah bunyian konten ASMR? Betul ya?

Ada seseorang yang birahi sebab suara berat dan lenting dari rongga mulut laki-laki juga perempuan, ya benar pula?

Ada pula sebuah bunyi-bunyian yang membuat orang malas bergerak jadi lekas memasak supaya dapat makan, ajaib ini?

Defini sebuah bunyi, tidak ada pakemnya. Hak itu kembali pada si pengartinya. Jika tidak setuju, aku rasa kamu mesti cari pengalaman baru. 

Tulisan soal bunyi ini mungkin tidak terlalu matang, sebab butuh banyak berfilsafat soal apa itu bunyian. Harusnya aku memikirkan itu dulu sebelum akhirnya memutuskan untuk menulis, namun sialnya aku begitu malas berpikir di jam-jam yang banyak dipenuhi berbagai jenis bunyian. 

Seperti saat ini misalnya, ada bunyi tut keyboard yang memantul, di bagian samping kanan dan kiri telingaku aku mendengar suara panjang berdenging dari dalam kepalaku. 

Dari luar rumah aku mendengar bunyi jangkrik  berdecit seperti menggoda malam, bunyian kodok sesekali. Ada juga bunyian rusuh kecoa. Dan ada bunyian pop cron matang dari dalam kepalaku. Menariknya khayalan soal bunyian popo cron inilah yang menjadi alasan mengapa aku menulis "Sebuah Bunyi-bunyian". 

Tulisanku kerap tak terencana, makanya harus segera dituliskan sebelum kahirnya dia bakal pupus terganti dengan imajiku yang lainnya. "Sebuah bunyi-bunyi" merupakan judul yang muncul setelah putaran kedua apa judul yang laik buat aku tuliskan. 

Sebab judul awal tulisan soal bunyi-bunyian yang aku ingin tulis adalah Bagai Bunyi Pop Cron dalam kaleng Khong Guan.(Aku jadikan opsi untuk judul fiksiku kelak)!

Sebuah bunyi yang manarik sejauh pengalamanku adalah saat seseorang asing memberiku semangat yang tampaknya tahu aku begitu banyak berkelindan dengan bunyian, sampai ia beriku aku saran supaya agak lebih mendehem terhadap bunyi-bunyian laporan akhir kuliahku, tanpa mamaksa senyapkan bunyian lain.

Komentar

Postingan Populer