Ra Ngendok Ra Badok
Endok mungkin satu prase yang gak semua orang tahu artinya, tapi dasarnya semua orang pasti pernah mengulumnya sebelum benar-benar terjun ke organ pencernaan lainnya.
Jadi endok itu artinya telur dalam bahasa Jawa. Sedangkan badok itu makan. Kan semua orang pernah makan telur dong, dan telur juga punya kelebihan ++ sebagai bahan makanan mentah, mulai dari olahan praktis, daya simpan tinggi juga kaya protein hewani.
Kalau menurut data yang dikutip dari laman nad.litbang.pertanian.go.id, menyebutkan dalam sajian 100 gr telur terkandung Kalori 162 (kkal), Protein 12,8 (gram), Lemak 11,5 (gram), Karbohidrat 0,7 (gram), Vitamin B 0,1(SI), Vitamin A 900,0 (SI), Kalsium 54,0 (gram) Fosfor 180,0 (gram).
Makanya tak mengherankan kalau endok jadi rekomendasi di piringan 4 sehat 5 sempurna yang sering digalakkan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia (Kemenkes) RI.
Kemudian menurut pengamatanku dari sekian-sekian bahan makanan yang ada, telur jadi satu yang paling akrab di rak-rak sayur, rak buku, rak sepatu anak kos. Ya kenapa, ya karena telur itu murah sangat terjangkau harganya.
Apalagi di masa-masa kritis keuangan, sudah yakin aku pasti telur jadi pelarianmu kan?! Hahaha. Kalau misalnya ra ngendok, ya ra badok, aku tebak kritis keuanganmu memang sudah lepas kontrol.
Jangan marah, soalnya aku juga begitu.
Aku adalah satu dari sekian juta umat dunia, yang suka banget sama telur mata (dajjal) sapi setengah matang, yang kuningnya masih bisa geol-geol. Pas dicucuk, cess kuningnya meler. Sedap betul.
Variasinya random, bisa endok kolab dengan mir rebus pedas, nasi goreng, mi Aceh, Lontong, Soto, Miso, dan banyak lainnya.
Singkat cerita, setelah aku jelaskan kelebihan ++ dari endok tadi, aku ada pengalaman pribadi yang kalau dipikir-pikir agak menyusahkan.
tubuh punya cara lain bereaksi sama hal-hal sensitif, tubuh suka jujur secara alamiah sama hal-hal yang kiranya dampaknya gak bisa ditolerir.
Walaupun aku suka sama endok gak bisa jadi pengecualian, akhirnya seleraku terseok dengan kenyataaan.
Setiap kali makan endok, satu hari atau beberapa hari setelahnya kupingku bakalan gatel banget, aku kira itu alergi. Alergi protein. jadi aku mesti menimalisir konsumsi endok supaya elerginya gak parah.
Setiap kali alerginya kambuh, rasa gatelnya pakai banget gak tahan buat gak digaruk, sangking gatelnya kupingku bakalan memerah sampai lecet-lecet, hampir-hampir aja cupingnya ucul karena digaruk.
Dan akhirnya, setiap kali basuh wajah hingga wudu, daun telingaku bakalan terasa perih sampai buat aku mencak-mencak, karena beneran sesakit itu.
Karena sudah cukup menderita, pernah dalam seminggu aku sama sekali gak konsumsi endok, dan hasilnya kupingku benar-benar adem ayem gak kegatelan.
Tapi ya begitulah, kadang ego itu gak bisa ditundukan, padahal sudah tahu dampaknya. Tapi tetap aja masih sering sih aku tembakan aja mbadok pakai endok, ra ngendok ra mbadok!

Komentar
Posting Komentar