Megalodon di Hutan Kingkong

 Mengapa judulnya Megalodon di hutan Kingkong terdengar keren, padahal sama sekali cerita ini tak bakal menyinggung dua spesies gede yang populer di zaman post modernisme. 

Singkat saja, semalam hari tubuhku lelah, rasa ingin segera rebah tapi tak bisa pasalnya aku kedinginan dan bolak balik kandung kemihku selalu penuh dan mendesak untuk dikeluarkan. 

Semalam aku sangat bersyukur sekali, judul penelitianku akhirnya diterima oleh pembimbingku. 

Dengan beberapa direksi arahan, beliau menyarankan beberapa pasang kata yang tepat untuk judul penelitianku yang masih tampak prematur. 

Penelitianku soal bagaimana pemberitaan merangkai seorang atlet disabilitas. Tempat penelitiannya di salah satu media online yaitu GoRiau.co. 

Aku sangat antusias dengan kemajuan yang kubuat, setidaknya lumayan daripada aku hanya berkeluh kesah, dan masih bertandang di balik rasa trauma (sempat bermasalah saat pengajuan pembimbing dulu). 

Bukan hendak mengumbar rasa khawatir dan trauma dulu, tapi aku ingat betul kata-kata pecundang yang disandarkan padaku. 

Aku kapok sekali dengan kejadian itu, semoga dari peritiwa tak biasa itu membuatku supaya lebih luwes dan lempeng menghadapi reaksi orang-orang. 

Menahan emosi juga jadi satu kendala yang terlalu astagfirullah sekali untuk tidak dituruti, tampaknya ada masalah dengan ketidakseimbangan emosional ini, aku tidak boleh gegabah dalam mengartikan dan beraksi lagi. Semoga ini jadi kasus pertama dan terkahir dalam dunia pendidikan kuliahku. 

Baru saja siang tadi, aku menghubungi temanku bertanya soal prosedur dia mengajukan permohonan tempat penelitian, katanya harus sudah melewati proses sidang proposal, dan aku baru saja memulainya. 

Bismillah, semoga penelitianku mudah, tepat dan lekas selesai. 


Komentar

Postingan Populer