Sebuah Plesetan Wortel; Selera Humor dan Kemakhluk hidupan

 Selepas magrib hari ini, aku bergegas dari rebahan panjang kelelahanku sebagai ganti istirahat di seharianku yang berkutat untuk siapkan pesanan sambal. 

Aku busungkan dada, menegakkan rahang kepala, melibat lesi bajuku segera ini rentaskan kegiatan percuan-an yang mesti kusiapkan untuk hari besok. 

Mulanya aku memotong dadu, sayur mayur yang kurebus 2 jam sebelumnya, ada ubi kuning dan wortel. 

Perlahan-lahan dan tertib aku memotong dadu-dadu semua sayur mayur tersebut sembari diiringi berisik musik-musik Kunto Aji, dan beberapa lantunan lagu melayu malaysia. 

Separuh dari semua bahan potong hampir selesai, sampai aku terhenti pada satu buah wortel yang bentuknya loyo matang, mungkruk seperti manuk yang kedinginan. 

Aku hempas ke kiri, ia ikut ke kiri. Aku hempas ke kanan ikut ia menganan. Aku tertawa geli. 

Aku amati baik-baik, kulihat seksama ketidakberdayaan wortel mungil ini, rasanya tak tega mencincangnya sampai jadi bagian kecil dadu-dadu untuk isian risol satu hari mendatang. 

Aku teringat, bila aku bisa tertawa hanya sekadar keloyoan wortel ini, dugaku mungkin saja begitu pula pada kakakku. 

Aku meneriakinya dari jarak yang tak terlalu jauh, "hey-hey, lihatlah wortel ini," Aku berteriak sambil mengacungkannya setingkat lebih tinggi di atas kepalaku. 

Hasilnya? Kakakku hanya cengar-cengir, tak lain tak bukan hanya berusaha menghargai upayaku. 

Rasanya setelah itu, aku ingin berperabg dengannya, berperang menaruhkan selera humor kami yang sering juga tak sefrekuensi. 

Aku sebal, dia juga sebal, sama-sama sebal jika ada satu pancingan lawakan yang tak mengail tawaan. Kadang kakakku protes, "lucu kan, Tik?!", aku hanya bolak-balik merotasikan bola mataku sambil sesekali mengernyitkan dahi, dan gelombang bermunculan di garis bibirku. Artinya aku sedang mencemooh selera humornya hang sama sekali tak menarik itu. 

Bedalah pula dengan kakakku. Jika aku lempar padanya sebuah tayangan lawakan dan menurutnya itu tak lucu, ia tak segan tampilkan wajahnya nan datar seperti aspal baru di simpang-simpang. 

Jadi  aku menemukan satu plesetan kejadian wortel hari ini, bahwa wortel sebenarbya berarti perang dan beritahu, sebab ia war dan tell!

Lalu hubungan dengan tulisan ini adalah kejadian selera lawakan yang berbeda, atau POV melihat kelucuan wortel yang loyo, menurutku lucu tak laik untuk menjadi lucu buat kakakku, akhirnya hampir memicu perperangan selera humor. 

Kisah ini tak bakal berhenti pada sebuah  keloyoan wortel hari ini. 

Oh masih ada satu cerita yang hampir terlewat (tepatnya sudah lewat), initeringat setelah postingan ini telah diunggah dan diperbaiki 3 kali sunting narasi dan 2 kali penyuntingan judul. 

Sebelum akhirnya selesai memotong setengah dari semua sayur-mayur, aku melihat seekor kecoa yang dilihat dari mata seorang yang punya isu mata minus jadi tampak seperti kurma tersebut, sedang jalan di tempat. 

Kakinya bergerak-gerak buat tubuhnya jadi tampak seperti kursor komputer yang gemetar. 

Tapi tamoaknya si kecoa sedang menyiapkan aba-aba berlari terbirit menghimpit aku. 

Saat waktu itu ditunggu dan aku sudah lebih dulu waspada, aku tak berniat sebenarnya menyakitinya. 

Tapi bagaimana lagi, ia semakin mendesakku supaya aku gentar menghindar, reflek saja aku menggepreknya dengan sekuat tenaga menggunakan wortel mentah. 

Mendadak kecoa itu keos. Mendadak juga wortel mentah itu patah, terpotek menjadi dua. Kecoa tampak tak bergerak, sebagian kakinya jungkat jungkit. Metong dalam hitungan detik. 


Komentar

Postingan Populer