Menepuk Tepung di Telapak Tangan

Sore tadi, aku bergegas menemankan keponakanku pergi ke sekolah Islam padahal mulanya hatiku enggan. Ya bukan tanpa alasan keenggananku untuk melangkah keluar lebih jauh dari garis pintu rumahku, menurutku tak ada hal menarik yang bisa kutemui di jalanan-jalanan panjang di sini. Sepanjang mata masih sanggup terbelak, pemandangan yang terlihat hanyalah barisan pokok-pokok sawit berjejer rapi, dengan dahan berduri; ada yang mekar dan terjuntai. Debu bagai anai-anai yang bertebaran, dan cahaya terik yang membakar kulit legamku menghujam tanpa ampun. Padahal biaya perawatan dan resiko gagal perawatan punya koagulasi yang simetris. Namun secepat kilat hatiku luluh, ketika aku melihat wajah iba, memohon bantuanku. Aku enggan menolaknya karena merasa kasian. 

Setelah fase perubahan statmentku tadi, pergilah aku bersama keponakanku yang kini berusia 8 tahun itu, dia anak yang tidak banyak bicara, selektif ketika hendak berteman, sensitif, cengeng tapi kada timbul pemikiran dewasanya yang jarang aku temui pada anak seusianya. Dia keponakan lelaki yang manja tapi juga peduli dan suka merajuk ketika ia merasa tidak dipedulikan. Tapi hal itulah yang selalu menjadi ciri khasnya, ketika aku dan saudara-saudaraku melempar candaan, kami tidak akan membawa dia dalam bincang gelak tawa itu, karena ia terlarang untuk diajak berpartisipan. 

Jadi sebelum benar-benar aku menuju sekolahnya, aku bertanya kembali kepada ibunya yang meminta tolong padaku untuk mengantarkan anaknya terkait alamat sekolah, dan terkejutnya aku sekolahnya jauh seperti yang kubayangkan, namun aku yakinkan diri kalau terus dijalani tentu akan sampai, dan akhirnya pergilah aku bersma keponakan lelakiku itu menuju sekolahnya, mulanya di awal perjalanan kami masih kerumunan keramaian lalu lintas Sumatra, dan akhirnya kami belok memasuki sebuah gang dan menyelami jalan itu, masih ke kondisi perumahan kampung-kampung, ada yang dengan lahan gersang dan iyup. Menyelami lebih dalam aku masih dapat melihat rumah panggung, dari papan broti yang bentuknya minimalis. Biasa rumah-rumah panggung seperti itu memiliki dapur di penghujung pintu keluarnya, biasanya juga dinding atas penyusun di sana, memiliki sela-sela yang jarang sekali, sebagai ventilasi udara, jadi ketika masak apapun sirkulasi udara di sana akan bertukar. Dan hal yang jadi sarat kenangan rumah-rumah panggung dahulu menggunakan tungku api dari tanah liat yang ditompang bata, ketika panas dipenuhi bara akan menyisakan bau yang khas, dan itulah yang jarang dan hampir tidak pernah aku temukan selama sepuluh tahun belakangan ini, aku kira manusia sekrang sudah komitmen dengan kepraktisan, dan mengapa itu sedikit menyisakan kesedihan, aku kira aku perlu melihat itu kembali untuk merawat kenangan. 

Jalanan sendimen batuan krikil, tumpukan pasir-pasir kuning tertindih sepanjang perjalanan itu, yang ternyata lebih jauh sekali dari yang aku bayang, selama perjalanan aku berpikir, kenapa ada orang yang mau menyekolahkan anaknya dipedalaman seperti ini, ditambah lagi medannya yang sulit dan kondisinya yang sangat jauh dari keramaian. di jalanan ini, ada saatnya suatu lintasan yang panjang, kita hanya menemukan rimbunan ladang sawit berhektar-hektar luasnya dan puluhan kilometer ladang karet, ini sedikit menyempilkan rasa khawatir membayangkan tindak kejahatan mudah saja terjadi di sini. Lantas ketakutanku ini menggiring kenangan sewaktu kecil dulu. 

Dahulu sewaktu usiaku belum benar genap tujuh tahun aku masih mengingat dengan pasti kesenangan-kesengangn banyak sekali aku temui di barisan pohon-pohin karet yang munjung ke langit, dahannya jarang sekali mengiri atau menganan dalam jarak yang bisa kami gapai, biasanya butuh tiga meter lebih terlihatlah dahan pohon karet ini ada. Langkah-langkah yang kami susun mengembara lintas keberanian bocah-bocah ingusan ini biasa melahirkan rasa puas merasa berhasil menaklukkan sebagian alam Tuhan, padahal itu tidak seberapa. Tapi entahlah rasa bahagia mencuat begitu girangnya di hati kami, menggurat lekuk-lekuk senyum di wajah polos kami dulu. Bukan cuma itu, akan tambah seru lagi jika di petualangan kami menemukan suspect-suspec perusakan ladang Ubi milik petani, seperti Babi misalnya. Kami pun tak benar-benar yakin mengukur keberanian kami jika bertemu dengan si Hitam besar, cula di sudut-sudut muncungnya yang mengepit hidungnya yang lebar dan panjang. Biasanya kiat yang selalu kami ingat saat bertemu dengan babi adalah jangan membuat kebisingan nanti dia merasa bersalah lantas panik lalu membuat kebisingan dengan suaranya yang khas seperti terkeok-keok ampun. Jika nanti musibah terjadi, seperti dikejar-kejar piggy jangan pernah berlari lurus terus, karena kecepatannya 4 kaki pendeknya bisa menyaingin dua kaki manusia yang jika dibagi empat sama pendeknya seperti miliknya Piggy, apalagi untuk usia bocah seperti kami, tentulah tak secekatan si Hitam kaki pendek ini. 

Pemetaan yang kami buat ketika bertualang di ladang-landang karet ini berusaha dekat dengan arus air, bukan sungai ya karena di kampungku mustahil menemukan aliran sungai seperti kampung-kampungnya orang, arus air di pemetaan maksudnya seperti parit-parit kecil yang tak dalam. Meminimalisir semak belukar segar, karena kami tidak tahu misteri apa di balik lebatnya dedaunan menjalar tersebut. Biasanya petualang seru kami di ladang karet ini dimulai mengumpulkan buah-buah pohon karet berjatuhan menuruti gravitasi bumi, menghitung batok-batok kelapa yang disanggah di badan pohon karet punya banyak bekas gurauan pisau deres, berlarian dan sembunyi di balik pohon-pohon kokoh ini sambil berteriak sana-sini "Oii-Oiii" suaramu akan menggema memecah racauan burung-burung. Setalah bosan dengan yang kami lakukan ini, untuk membunuh rasa jenuh, kami dengan berani menyeburkan diri ke dalam parit-parit air yang ku sebutkan sebelumnya, di sana puncak euforia mendaki lagi, kami berlompat-lompat kegirangan dengan pelbagai gaya seru yang kami yakini paling keren. Teriknya matahari siang bolong tak melumerkan rasa takut legamnya makin-makin kulit mudaku. Lagi pula menyeburkan diri setelah konvoi di antara pohon-pohin karet ini agaknya meredakan rasa gatal dan bentol-bentol akibat digigit unggas-unggas kecil laiknya titik-titik diakhir tulisan ini nanti. Agas, seperti itulah biasanya kami menjulukinya, si makhluk bertubuh microspik ini saingan berat si Nyamuk-nyamuk, mereka tidak lah beda, Sama-sama kriminal pencuri darah. Ketika benar-benar rasa lelah menyergap bocah-bocah polos seperti kami ini, kami berjalan pulang agak gontai. Sisa energi benar-benar untuk perjalanan kembali pulang. Dan kami Pedar seperti tepung ditepuk di atas tangan, dan seperti itu kenangan menghilang... ... .... .... 

Tak terasa hampir satu setengah halaman, kenangan yang masih berplot satu di ladang itu tertoreh, dan sepertinya aku harus berhenti karena bnyak pekerjaan yang menungguku, sampai jumpa dicerita-cerita lain

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer