Sebuah Pengakuan Dosa Tentang Adab Menasehati
Ya ampun, setelah 2 hari pasca evaluasi kenapa kacaku tidak kulap dengan baik, sampai-sampai aku tak bisa berkaca diri.
baru saja aku membaca sepotong isi buku Zarthustra, aku seperti ditampar dengan kebenaran yang kubaca. Zarathustra yang bijak dengan sampul lukisan "Starry Night" Van Gogh-nya itu mengajakku untuk menggemuli dirinya, membaca isinya memahami maksudnya.
Ya ampun kenapa aku sulit sekali untuk berubah menjadi lebih bijak menyikapi hal-hal yang tak sesuai. bisa-bisanya aku berkilah di balik kata adab, sedangkan aku sendiri pun masih begitu problematik.
Semua ini dimulai dari sebuah teguran yang kulempar untuk temanku yang bertugas memberi honorium kepada pemateri yang terlibat di acara kami. Saat itu, temanku tampak buru-buru memberikan honorium itu sampai dia kurang tepat melihat kondisi sekitar. Kondisi begitu ramai, dan ada beberapa pasang mata dan telinga yang tampak tertaut kepada kami.
Ada pula beberapa canda yang begitu kurang sedap untuk didengar. Sampai akhirnya honorium itu ditolak sebab pemateri merasa tidak cukup perlu untuk mendapatkan honorium tersebut. Tapi teman yang bertugas masih sergah memaksa diikuti beberapa candaan yang sedikit kurang nyaman.
Sampai akhirnya, aku begitu mengamati kondisi dan pertemuan itu berakhir, aku berjalan menjauh berusaha semaksimal mungkin mengendalikan diri, tapi entah apa pulak dorongan dari hati ingin saja cepat-cepat menasehati.
Intinya saat aku mau menasehati temanku itu, aku pun sama tak beradabnya, kenapa aku menegur dia saat kondisi masih ramai orang (Walupun orang-orang itu teman2 dekatku). Itu cukup membuat sakit hatilah. kau Tika!
Tidak ada lagi yang bisa kulakukan, kejadian itu masih membuatku tidak tenang menjalani hari, walaupun si teman yang memberikan honorium itu merasa itu bukan masalah, tapi memang masalahnya ada di diriku.
Parahnya lagi, bisa sampai aku melempar kata bodoh kepada temanku itu, aku tau itu sebab kebiasaan burukku mengatakan kata-kata bodoh untuk hal-hal apapun lah.
Aku harus berubah, jangan pernah lagi bilang bodoh-bodoh sampai aku bisa menormalisasi hal tersebut, tapi jujur kadang lingkunganku pun masih begitu. Cemanalah nih!
Hijarh Tik, revolusi akhlak dan mentallah. MATI kali aku melihat kelakuanmu.
Tika yang dulusan sekarang gak banyak perbaikannya, masih begitu-begitu saja. I dont like her sometime, to toxic.
I can't repairs what I broke before.
Harusnya aku kembali mengingat apa yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw, tentang adab menegur orang.
Tegurlah disaat sepi, hanya ada aku dan dia.
Sampaikanlah dengan kata yang santun dan sopan
Nada yang mengayomi bukan mengecilkan sampai menghardik.
Ayolah Tika, ingatlah petuah-petuah di atas, apa kau tidak lelah menjadi bajingan. Kau ini orang-orang yang dipermudah jalannya sebagai tholib, mestinya kau bisa mengambil inti sari dari hari-hari yang kau lalui.
Banyak suri tauladan dari kerabat terdekatmu. kenapa kau tidak bisa berubah Tika, aku masih sedih sekali dengan sikapmu ini, kenapa kau tidak berubah Tika. Mohonlah perbaiki sikap dan akhlakmu. AYOKLAH DIMULAI HARI BESOK YA! jangan lupa minta maaf sama temanmu itu.

"kenapa kacaku tidak kulap dengan baik, sampai-sampai aku tak bisa berkaca diri. " That hurts.
BalasHapusKhilaf be like
BalasHapus